Jakarta,, oh, Jakarta…

Apa kota paling polutif (mang ada ya kata ’polutif’ di kamus? Ntar deh saya cek di kamus) di Indonesia? Sudah jelas, jawabannya adalah kota Jakarta. Lalu, bagaimana posisi Jakarta di antara kota-kota di dunia? Sebuah fakta yang tidak menyenangkan menyebutkan bahwa Jakarta menempati posisi ketiga, sekali lagi saya ulangi, KETIGA DI DUNIA, setelah Meksiko City di posisi juara bertahan tempat pertama dan Panama di posisi runner up. W-O-W, wow! Beberapa upaya katanya sudah mulai dilakukan. Diantaranya dengan memusnahkan kendaraan roda tiga, alias bajaj. Kalo ini, gw setuju banget. Bukannya tidak merasa kasihan dgn nasib para sopir bajaj. Tapi, bajaj-bajaj itu benar2 tidak layak jalan terutama di kota Jakarta yg sudah sangat kotor itu udaranya. Liat sendiri kan, gimana parahnya asap knalpot bajaj itu? Bajaj-bajaj itu sudah seharusnya dari dulu dimusnahkan, lalu diganti dengan kendaraan baru yang menggunakan BBG, yg lebih ramah lingkungan.

asap bajaj membuat polusi makin parah

asap bajaj membuat polusi makin parah

Langkah berikutnya yg dilakukan Pemda Jakarta adalah dengan menetapkan hari Minggu di setiap akhir bulan sebagai hari bebas kendaraan, yang diberlakukan dari jam sekian hingga jam sekian (saya lupa). Jika ketahuan melanggar, dikenakan denda. Hmm… good idea, but still very less. Agak kurang ngefek ini mah, kalo bebas kendaraan cuma beberapa jam setiap bulan doang. Langkah lain yg sudah dilakukan yaitu dengan melarang motor-motor bermesin 2 tak untuk melewati jalur-jalur tertentu di beberapa ruas jalan ibukota. Saya lihat juga, tidak ada lagi ya produksi motor mesin dua tak. Hmm, mungkin ada, tapi sangat dikit kali yah. Ada juga salah satu upaya yang sebenernya idenya sangat bagus tapi kayaknya agak diabaikan oleh para pengendara kendaraan bermotor, khususnya pengendara kendaraan umum. Upaya itu adalah uji emisi kendaraan bermotor. Kalau upaya ini berhasil, seharusnya tidak ada lagi kan bis-bis umum yang mengeluarkan asap ngepul berwarna hitam? Tapi kenyataannya, masih banyak tuh.

Apa lagi faktor penyebab Jakarta menempati posisi ketiga sebagai kota paling polutif di dunia? Tidak lain tidak bukan adalah faktor penghijauan. Makin berkurang saja lahan hijau di Jakarta ini. Seharusnya di Jakarta mulai diterapkan peraturan STOP PEMBANGUNAN. Tapi, saya lihat Agung Sedayu Group itu gak berenti2 promosi perumahan dan mall baru. Gila, mang masih ada ya, lahan di Jakarta buat dibangun gedung2 seperti itu? Kalau lahan kosong di Jakarta abis, dimana daerah penyerapannya? Dimana lahan untuk penghijauannya? Sekarang siapa pihak yang paling bisa disalahkan kalau setiap 5 tahun sekali Jakarta tenggelam karena banjir, panasnya Jakarta makin gak ketulungan, serta paru-paru makin sakit karena menghirup kotornya udara Jakarta?

Buat Agung Sedayu Group dkk, saya harap pembangunan gedung2 baru utk perumahan dan mall di Jakarta bisa dihentikan. Jika mau bikin hotel, mall, atau perumahan, bisa kan cari daerah lain yg lebih potensial? Daerah lain di luar Jakarta. Kenapa hanya Jakarta yg dijadikan pusat pembangunan? Masih banyak daerah lain yg potensial bagi pengusaha seperti kalian jika ingin cari untung besar. Tahukah kalian bahwa banyak daerah2 di Indonesia yang sangat potensial dijadikan tempat wisata karena keindahannya, namun karena tidak setenar Bali, menjadi tidak dikenal oleh bangsa Indonesia sendiri namun dikenal oleh warga asing?

Tau gak bahwa ada pulau di Indonesia bernama pulau Cubadak yang keindahan pantainya dapat menyaingi keindahan pantai pulau Bali? Pulau tsb ada di Sumatera Barat. Ironisnya, tidak ada pengunjung Indonesia satu pun di pulau itu. Semua orang berbahasa Italia karena pemilik resor di pulau kecil itu dan tamu-tamunya adalah orang2 Italia. Pulau-pulau indah lain yang bernasib sama seperti pulau Cubadak antara lain P. Gangga (di Sulut), P. Menyawakan (di Kep. Karimun Jawa, Jateng) yang dimiliki oleh orang Swedia, P. Moyo (di Sumbawa), P. Maratua (Kaltim), Wakatobi (Sultra), Raja Ampot (Papua), dll. Have u ever heard at least one of their names? Pulau-pulau tersebut dikelola atau dimiliki oleh orang asing. Jangan cuma meng-anak-emas-kan Bali deh. Emang cuma Bali aja yang bagus di Indonesia? Orang luar negeri aja banyak yg menganggap Bali itu di luar Indonesia. So pathetic! Makanya, kalau bisa, Agung Sedayu Group itu bangun aja resor di pulau2 tsb, biar yang menikmati bukan cuma orang bule, tapi kita warga Indonesia yang memiliki pulau tersebut. Hanya saja, one condition, jika suatu saat pulau2 kecil yang belum terkenal itu menjadi terkenal, saya harap kebersihan dan keindahan lautnya, khususnya keindahan terumbu karangnya, tetap terjaga, tidak terganggu oleh tangan2 jahat yang rela merusaknya demi keuntungan egois pribadi semata.

Yah, intinya, saya harap gubernur Jakarta mulai membenahi Jakarta, sesuai slogan ”Ayo benahi Jakarta!”. Eh, lupa, itu sebenernya slogannya cagub yg mana yah? Hehe. Yah, slogan siapapun itu, kenyataannya Jakarta benar2 harus dibenahi. Gubernur harus mulai tegas. Kalau memang masalah polusi itu terasa impossible utk diselesaikan, setidaknya selesaikan dulu masalah banjir. Setiap 5 tahun, banjirnya makin parah. Coba kalau kita ramalkan banjir Jakarta 20 tahun mendatang, bakal seperti apa? Tenggelamkah? Mari, kita tegakkan gerakan STOP PEMBANGUNAN DI KOTA JAKARTA.

P.S. : Saya tidak menemukan kata ’POLUTIF’ di kamus Indonesia. Yang ada adalah kata ’polusi’ dan ’polutan’. Ya sudah, ceritanya saya bikin istilah baru. ’Polutif’ artinya ’bersifat polusi’, seperti pada kata ’kreatif’ yang artinya ’bersifat kreasi’ (kira2 begitu). Yah, ngerti lah yaaa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s