Sinetron di Bioskop

Siapa bilang sinetron tidak bisa masuk bioskop? Buktinya, film X ini. Film yg diangkat dari novel terkenal karangan penulis terkenal pula. Fim yang mengambil syuting di luar negeri. Film yg sebagian besar diperankan oleh orang-orang baru. Yah, tau kan?

Dari bagian awal film, sudah bikin gw agak ill-feel. Adegan dimana orang2 makan di luar ruang dekat sungai. Yang aneh, aktor-aktornya terlihat terkena lighting cukup terang, dimana di belakang mereka jelas2 terlihat agak gelap (karena outdoor dan malam2), membuat kita berpikir adegan ini diambil di studio.

Jika liat alurnya, alurnya masih kurang bagus menurut saya. Di sinetron itu, dunia terlihat sempit sekali kan? Begitu pula dgn film ini. Benar2 sempit. Si wanita dan si pria yg tidak saling kenal di negeri sana, ternyata eh ternyata tinggal di kampung halaman yg sama. Mereka bertemu melalui adik si pria yg tiba2 kenal oleh si wanita. Membuat gw bisa nebak alur berikutnya gimana. Ketebak banget kan, gimana cara mereka ketemu nantinya? Dunia sinetron memang sesempit daun kelor!

Dari segi isi cerita, entah kenapa kurang bikin ngena di hati. Ada yg bilang di TV, bahwa film ini bagus krn menampilkan perjuangan si tokoh utama pria dalam mencari ilmu di negeri orang dengan jualan. Ah, tidak terlihat banget tuh perjuangan dia. Tidak membuat gw terharu sedikit pun. Yang bikin gw ber’gubrak’-ria adalah banyaknya merk sponsor yg disebutkan sebagai bagian dari skenario (bahkan disebut dalam isi sebuah surat, duuuhh gubrak bgt dengernya). Jadi terlihat seperti sinetron dgn bumbu iklan semata, tidak terlihat seperti kehidupan real.

Nah, selain ituuu… ada beberapa adegan yg tidak penting untuk dibuat. Ada adegan si adik ngambil uang di bank, semata hanya untuk kepentingan iklan sponsor. Lalu, adegan nyanyi2 di acara nikah orang (yg ternyata hanya imajinasi semata) yg seharusnya dihilangkan saja. Memang sih, sponsor berperan sangat penting dalam pembuatan film ini, secara budgetnya gede banget. Tapi, harusnya bisa dikemas dalam packaging yg lebih bagus. Ga harus diucapkan oleh si pemeran kan? Jadi gak kaya iklan banget.

Fokus cerita yang tidak fokus (fokus cerita kemana-mana, ga fokus ke cerita utama), kisah bbrp orang diceritakan juga padahal tidak ada sangkut-pautnya dgn pemeran utama, membuat gw melihat nih film bener2 kaya sinetron.

Lalu, jika kita liat ending filmnya, baru kali ini gw nonton film yg bersambung tapi pake nunjukin episode berikutnya gimana. Bener2 kaya sinetron kan? Biasanya mah klo to be continued, ya udah to be continued aja. Selain itu, ending dirasa tidak klimaks. Endingnya cuma adegan si pria sampe di bandara, disambut oleh sang adik yang nangis2 lebay.

Dari sekian kekurangan, cuma 1 kelebihannya. Yaitu tempat pengambilan shootingnya. Itu doank, tapi. Sisanya, sinetron banget. Jika di TV, ada penonton setelah keluar dari bioskop yg mengaku dia sampai menangis, gw juga menangis. Menangis dalam hati, karena menyia-nyiakan 15ribu gw dgn sgt percuma. Mending tunggu tayang di TV aja ini mah. Mending donlod aja ini mah. Ah, males lah nonton klo ada film keduanya ntar.

P.S : pemeran pria berinisial F (kependekan dari F*****), mirip banget ama wisnu ‘congli’ menurut gw… Hahahaha, pada setuju pastinya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s