Berlayar Bersama “PERAHU KERTAS”

perahu kertasEntah sudah berapa lama gw tidak membaca novel. Lebih dari 6 bulan yg lalu rasanya (thanx to TA). Padahal itu merupakan kegiatan favorit gw di setiap waktu luang. Terima kasih pada Karinidya yg karena sudah lulus dan menganggur (gw doakan lo dapet kerja di perusahaan oke dalam waktu dekat!!🙂 ), membeli novel PERAHU KERTAS ini dan meminjamkanya ke gw. Kata Karin, “bacaannya ringan, cong, seringan perahu kertas“. Well, that’s what I need right now. Bacaan yg tidak berat2 amat. Nah,, berhubung gw pengguna otak kanan yg lebih suka menulis dalam bentuk point2 (hmm.. mang berhubungan yak, antara otak kanan dan menulis dalam bentuk poin2??? entah,,, hehehe), gw list aj ya,, apa-apa aja yg menurut gw nilai2 plus yg ada di novel Dewi Lestari yang satu ini.

1. Gaya bahasa
Gw adalah tipe orang yg menilai novel pertama kali dari gaya bahasanya. Kalo gaya bahasanya gak cocok, gw bisa bosan bacanya. Tapi kalo cocok, tidak terlalu formal dan berat, pasti akan nyantol dgn hati saya. Sejak halaman pertama, gw udah suka dgn gaya bahasa di novel ini. Ringan tapi berbobot. Puitis tapi tidak membosankan. Bijaksana tapi tidak terkesan berat. Begitulah menurut gw. I love it!

2. Alur cerita
Alur cerita nya jelas. Membuat kita turut mengalir. Membuat kita enak membacanya. Ga pake pusing dan ribet. Sederhana. Gak ada satupun plot yang membosankan. Satu subbab gak dibikin terlalu panjang. Gw membaca ini hanya dalam hitungan kurang dari 48 jam (dipotong waktu tidur, mandi, makan dan pergi ke kampus bentar *info yg kurang penting sebenarnya, hahaha). Intinya, alurnya pas, gak kerasa aja, tiba2 udah baca sekian ratus halaman.

3. Karakter tokoh yang unik dan kuat
Dua tokoh utama yg diceritakan di novel ini adalah Kugy dan Keenan. Dari namanya saja sudah terlihat keunikannya. Kugy dikarakterkan punya kepribadian aneh tp ekstrovert, cuek dan berantakan tp pada dasarnya cantik, selalu ceria, penuh khayalan, pintar menulis dan ingin jadi juru dongeng. Sementara Keenan dikarakterkan sebagai orang yg penyendiri, pintar melukis, tampan, spontan, pintar, dan artistik. Kugy bisa menulis tapi tidak bisa menggambar. Sebaliknya, Keenan bisa menggambar namun bisa menulis.

Dee bercerita bahwa dalam novel ini, sejak awal, dy berusaha utk membuat kedua tokoh utama (Kugy dan Keenan) yang berdiri di dua buah kutub yang berlawanan bisa bertemu di tengah segala kemustahilan. Dan itulah yg dia lakukan. Kedua tokoh ini memang diceritakan saling melengkapi. Mereka punya dua impian yg berbeda yang uniknya dapat diwujudkan menjadi satu karya bersama.

4. Cinta, persahabatan, dan impian
Jika disuruh menceritakan inti dari novel Perahu Kertas ini, gw akan menuliskan : cinta, persahabatan, dan impian. Ya, inti utamanya memang klasik. Cinta. Cinta ditambah persahabatan membuat kisah makin rumit dan berbumbu. Tapi, bukan cuma itu yg diceritakan oleh Dee di buku ini. Ada impian. Proses bagaimana seseorang berjuang dan konsisten dalam meraih impiannya. Alasan mengapa kita kadang melalaikan impian kita karena tidak realistis jika kita mewujudkan impian itu di dunia nyata. Salah satu dari sekian banyak kutipan percakapan dalam novel yg saya sangat sukai yaitu : “berputar menjadi sesuatu yang bukan kita demi menjadi diri kita lagi”. Setelah membaca buku ini, orang gak cuma dapat hiburan, tapi juga bisa dapat sesuatu, just like a lesson.

5. Cover
Memang, “don’t judge the book by its cover“. Tapi menurut gw yg lebih tepat peribahasa itu harusnya berbunyi “don’t judge the book by ONLY its cover“. Menurut prinsip gw yg gw anut selama gw kuliah di TI, packaging is very important. Kemasan itu penting! Kalo kemasan gak menarik, mana ada konsumen yang tertarik utk mencoba. Nah, sebelum gw baca dan direkomendasikan oleh teman utk membaca novel ini, ketika gw pertama kali melihat buku ini dipajang di toko buku ketika perdana diterbitkan, gw menyukai covernya. Lucu. Hehe. Terus melihat nama penulisnya yg tidak asing lagi, makin membuat gw tertarik utk ingin membacanya suatu saat nanti (satu hal yg mencegah gw utk membelinya saat itu juga adalah.. eng ing eng.. TA!).

6. Emosi
Jujur, ketika membaca novel ini, emosi gw jg ikut main. Gaya bahasa Dee sangat mendukung emosi gw bermain. Kadang tertawa, kadang juga berkaca-kaca. Sedikit novel yg bisa bikin gw ikutan membawa emosi di dalamnya. This novel is one of them.

Yah,, itu semua yg gw suka dari novel Perahu Kertas ini. Begitu tau bahwa sebenernya buku ini sudah diterbitkan dari tahun lalum namun dalam format digital. Langsunglah gw search PDF-nya. Dan nemu! Heheh, langsung deh gw donlod. Free lagi, hehehe. Bagi yg belum menikmati novel ini, atau masih ragu-ragu, bacalah! Gak bikin kecewa deh. Menghibur dan memberi kita pelajaran juga.

Oiya, sejak masih dalam tahap membaca novel ini, gw udah hampir yakin bahwa novel ini pantas dijadikan sebuah film. Dan feeling gw mengatakan bahwa buku ini pasti akan di-film-kan. Tampaknya dugaan gw menuju ke kebenaran. Tadi gw googling utk mencari gambar dari cover novel ini, dan ternyata di situs Kompas terdapat bahasan mengenai penjelmaan novel Perahu Kertas menjadi sebuah film. Bener kan feeling saya? Hehe. Entah apakah akan sebagus novelnya filmnya nanti. We will see…..

9 thoughts on “Berlayar Bersama “PERAHU KERTAS”

  1. hahahaha…
    nice book tapi ringan ya chong….pengen yang berat-berat nih.
    gw juga suka banget sama kata-kata berputar menjadi orang lain untub bisa jadi diri sendiri…
    jlep-jlep…nancep…
    mba dee memang sangaaaat oke buat alur cerita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s