First Time Rappling di Air Terjun!

Air terjun itu terasa tinggi sekali dari ketinggian ini. Dari atas, kelihatannya dasar air terjun itu masih berkilo-kilo meter jauhnya, padahal sebenernya hanya sekitar beberapa ratus meter saja. Seratus meter mungkin, atau bahkan 200 meter? Kemampuan gw dalam mengestimasi jarak memang kurang baik, apalagi saat itu yg di otak gw adalah bagaimana caranya gw bisa meneruni air terjun ini dengan selamat. Jangankan menghitung jarak, mengatur nafas untuk menenangkan diri saja sulit sekali. Mereka mengatakan tali pengaman sudah siap. Mereka pun tinggal menunggu gw utk mengatakan “SIAP TURUN”. Maka setelah menarik nafas panjang 2 kali, akhirnya gw memberanikan diri utk berteriak “SIAP TURUN!!!!”, dan mendengar seseorang berteriak “SIAP DELAY!!!”. Sedetik, dua detik, lima detik, gw blom turun-turun juga ke air terjun. Gw meminta waktu. Setelah 1-2 menit, gw pun mulai memiringkan badan, menumpukan badan seutuhnya ke kaki dan tali pengaman, dan mulai menuruni air terjun itu. Masa bodoh kalau gw sedikit2 sekali mengulurkan tali pengamannya sehingga pergerakan turun gw pastilah lambat, tapi yg penting gw bisa selamat sampai bawah tanpa knapa2….

Setelah bergerak 2 meter ke bawah (kira2), kaki gw terpeleset, dan badan gw terlempar ke tengah air terjun, menyebabkan muka gw terkena tamparan keras air terjun dari atas. Gw langsung megap2 panik karena somehow rasanya mengingatkan gw ketika gw diceburkan ke kolam renang oleh temen2 gw dan langsung panik karena gw sama sekali gak bisa berenang. Selama 30 detik hingga semenit, gw stuck di tengah air terjun itu. Saking paniknya, gw berteriak 2 kali sambil melambaikan tangan ke atas, ke arah para instruktur di atas, bukan untuk menyerah, tp untuk meminta bantuan utk menarik badan gw menyingkir dari terpaan air terjun yg sangat deras itu. Tapi tak ada tanggapan mereka. Mungkin memang sengaja, mereka tau gw pasti akan baik-baik saja dan membiarkan gw berjuang sendirian. Oke, setelah tidak begitu panik (tp masih panik sebenernya), gw langsung melempar badan gw ke samping, sehingga tidak terkena terpaan air terjun itu lagi. Gw menenangkan diri hingga lebih tenang kurang lebih semenit, kemudian mulai ambil posisi enak dan mulai menuruni air terjun lagi. Bukan sekali itu gw terpeleset atau tergelincir atau terbentur dinding air terjun, tapi berkali-kali, mameeenn.. Tapi meski berkali-kali jatuh, tetep gw berpikir ga mungkin mau nyerah gitu aja. Dua prinsip gw yg gw terapkan pada saat itu :”rasa takut harus dihadapi, bukan untuk dihindari” dan “kalau sudah memulai sesuatu harus sampai selesai, jgn berhenti di tengah2” membuat gw terus bertahan dan berjuang sampai bawah, meski nafas udah super ngos2an dan tangan udah mulai gemetar antara lelah takut dan dingin.

Dan akhirnyaaaa gw sampai juga di bawah. Asli, gw amaze bgt. Gw yg sangat takut akan rasa jatuh dari ketinggian, gw yg notabene nya bukan pecinta olahraga2 ekstrem dan tidak berniat utk melakukannya, ternyata mampu! I did it! Berhasiiiillll!!! Lega? Iya. Capek? Iya banget (apalagi sebelum canyoning ini kami sudah hiking dan berhenti di 4 pos di hutan sebelumnya selama kurang lebih 5 jam). Bangga dan puas? Iya. Tapi, lagi-lagi, harusnya gw inget dengan 1 pelajaran hidup yang disebut2 dgn “jangan cepat puas diri”. Udah lega2 seperti itu, ketika gw udah siap utk kembali, ternyata, baru gw sadari, the challenge is not over yet. Sebuah tantangan yg lebih berat kini ada di hadapan gw. Gw harus mendaki or menaiki or memanjat lebih tepatnya tebing tanah liat yg licin di depan gw hanya dgn bantuan tali yg digantung dan tidak diikat di tubuh kita (tdk seperti ketika kita rappling). Instruktur yg menjaga menawarkan gw apakah gw mau menunggu temannya atau gw mau lanjut sendiri. Tangan gw memang capek dan gemetaran, nafas juga ngos2an, tp gw ga mau menunda2. Lebih cepat lebih baik, jd gw mo langsung ke atas sendirian. But it’s not easy!! Nyaris terpeleset jatuh beberapa kali, akhirnya gw jd menunggu bantuan instruktur yg sebenernya tidak begitu membantu banget (krn ia inginnya kita lebih berjuang sendiri, tdk bergantung padanya). Tanahnya itu jadi sgt sulit utk dipanjat karena telah terkena air hujan siangnya dan sudah tidak berbentuk karena rusak oleh pijakan2 dua teman gw yg telah memanjat sebelum gw. Setelah dgn amat sangat capek dan habis tenaga, gw berhasil juga sampe atas dan langsung lemas dan berkali2 mengatakan “mantaaaapp!!!”.
Inilah satu pengalaman paling paling berkesan dari outdoor training (atau outward bound) yg gw ikuti selama 6 hari (dari tgl.8-13 Mei 2010 kemarin). Satu-satunya olahraga ekstrim yg pernah gw lakukan sebelum ini adalah rafting, dan menurut gw rafting jadi gak ada apa2nya dibandingkan dgn rappling or canyoning ini. Gw jadi tau bahwa kemampuan daya juang gw ternyata cukup baik. Gw terbukti bukan orang yg mudah menyerah. Mungkin gw masih butuh latihan seperti ini beberapa kali lagi agar rasa takut di awal tidak ada lagi. Yang jelas, training di hutan Situ gunung dan live in di desa Sukamanis kemarin bener2 suatu pengalaman yg sangat2 berharga buat gw dan juga buat teman2 MT tentunya. Terima kasih kepada Trakindo dan tim Pancawati yg telah memberikan kepada saya kesempatan emas ini. Yang gw ceritakan di post ini, Canyoning, merupakan satu dari sekian banyak rangkaian konsep acara outdoor training kemarin. Pengalaman2 lain yg gw alami selama 6 hari training kemarin akan gw ceritakan dan gw bagi tentunya nanti …

Satu hal yg bisa gw bagikan dijadikan sebagai pelajaran dari pengalaman canyoning gw ini adalah never give up, frens. Jadilah seorang climber, yg selalu mau bangkit setiap kali jatuh dalam mengalami pendakian gunungnya. Dan ketika seorang climber berhasil mencapai suatu puncak gunung, ia mungkin akan turun, tp untuk mendaki gunung yang lain yg lebih tinggi dan lebih menantang lainnya lagi. Daya juang yg tinggi memang merupakan salah satu kunci utama kesuksesan kita. Kita harus selalu siap menghadapi segala tantangan dan ketidakpastian. Satu hal lagi yg gw pelajari dari canyoning ini, bahwa ketika kita dalam kesulitan, pasti ada orang lain yang menolong kita, meski para penolong itu tidak dapat dilihat oleh kita (dalam kasus canyoning gw kemarin adalah para instruktur di atas dan di bawah). Ya, jadiiii milikilah daya juang yg tinggi, kawan…

P.S.: sebenernya pengen bgt gw tambahin dokumentasi di post ini, foto2 rappling nya, tapi semua foto masih disimpan sang fotografer, yaitu salah satu karyawan trakindo dan juga mentor kami.. Lain kali aj kalo udah dapat fotonya yaaa..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s