“Why Bandung??!!”

Since the first time I heard the news about the opening of TransStudio in Bandung, my first reaction was “Why Bandung???!!!”. Why not other city? Kenapa gak kota lain yg lebih butuh dikembangkan? Okeh, TransStudio pertama sudah tepat dibangun di Makassar. Jadi, selain pulau Jawa, pulau Sulawesi punya kelebihan tersendiri, yaitu ada TransStudio. Trus, TransStudio kedua dibangun di Bandung. Padahal, tanpa TransStudio pun, Bandung sudah dipadati oleh penduduk luar Bandung, terutama setiap weekend, apalagi long weekend. Kehadiran TransStudio malah bisa membuat Bandung jd lebih padat ajah, dan lebih panas ajah setiap tahunnya, lebih ruwet. Karena jika sebelum ada TransStudio, udara kota Bandung dipenuhi oleh asap2 mobil2 ber-plat B (semenjak ada tol Cipularang), sekarang mungkin bukan cuma plat B, tapi jg plat A, AD, bahkan L. Sekarang mostly hanya penduduk Jakarta yg mendominasi, tp nanti mungkin seluruh penduduk Jawa ikut memadati kota Bandung nan mungil dan adem itu. Just great.

Padahal masih banyak kota lain yg perlu dikembangkan. Gak ngerti lah gw kenapa. Satu contoh yang bagus adalah Malang. Malang sudah mulai berkembang jadi kota pariwisata. Udah banyak tempat pariwisata & hiburan dibangun di kota itu. Jadi menurut gw, Jakarta dan Bandung itu sudah cukup, jgn dikembang-kembangkan lagi, karena kedua kota itu memang sudah berkembang banget, sudah padat banget.

I said it because I love Bandung too much. Bandung has become my second home. I love Bandung just the way it is. Bandung sudah punya keunikan dan ketertarikannya tersendiri, tanpa adanya TransStudio. Jadi apa fungsinya TransStudio di Bandung sih? Malah makin bikin padat, macet, dan panas aja. Well, gw bukan ga suka dgn TransStudio-nya (I’ll probably go there someday), gw cuma ga suka sama orang2 yg memberi ide pembangunannya di Bandung. And there’s nothing I can do about this. TransStudio sudah dibangun dan sudah dibuka utk umum, terhitung sejak hari ini. May people enjoy it, dan semoga Bandung baik-baik saja, please..

Jakarta Fair 2011

Posting yg mungkin tidak penting. Tapi memang saya sedang merasa tidak penting beberapa hari ini. Jadi biarlah postingan kali ini tidak penting. Hahaha,, memang hal2 yg tidak penting merupakan keahlian saya.

As usual, every June, di Jakarta, tepatnya di daerah Kemayoran, ada PRJ alias Pekan Raya Jakarta alias Jakarta Fair, dalam rangka merayakan ulang tahun gw bulan Juli nanti. Ooops, maksud gw, dalam rangka merayakan ulang tahun kota Jakarte tercinte yg tepatnya jatuh pd tgl 22 Juni. Masak ultah gw, hahahaha… Happy 484th anniversary for Jekarda (American President’s style), then…

Untung jg cuti kali ini bertepatan dgn momen ini, jadilah kami (read : saya dan anggota2 The Congers yang lain) pergi deh ke PRJ. Sengaja pilih hari biasa, bukan weekend, biar ga bejibun ramenya. Karena weekday, artis yg ada selain kita ya gak gitu terkenal (ha3). Kami berangkat dr jam 6 sore (padahal janjian jam 5 sore, no surprise yaaa). Sampe sana, jalan-jalan, foto-foto, masuk toko sini – keluar toko situ, muter-muter, belanja-belanji, makan bebek kaleyo (yummy!) sambil nontonin orang yg berusaha ngelucu di panggung kecil, foto-foto lagi, liat-liat, ketawa-ketiwi, berusaha balikin tias ‘kunti’ yg kabur kembali ke rumah hantu (ahahah), terus udah jam setengah 11 malem ajah. Pulang deh. Ngeluarin mobil dari parkiran, eh si welly malah malak duit kembalian ke si tukang parkiran, membuat kami ngakak bermenit-menit.

Cuti tinggal 6 hari lagi. So maybe, it was our last time (before I go back to borneo island) hanging out together berlima seperti itu. Hikss… I wish I could stay so we can hang out everyweek, guys… Balik2 ke kalimantan, pasti kangen ketawa2 bego bareng kalian lagi… But i promise we’ll meet again soon. Pas lebaran tiba nanti, Insya Allah… Amiiinn…

Singapore??

I ever put this below picture as my profile picture in my bbm…

And then, beberapa orang jd bbm gw dan mengajukan pertanyaan2 yg intinya sama, yaitu “lo lg di singapura?“. Hahahahaha,, jawaban mereka salah tp bener. Coba klo liat foto yg berikut ini. Apa mungkin ini di singapura beneran?

Well, actually me and my friend were in……..

Only in Bontang city, East Kalimantan…. 😀

HAHU dan SETAN!

3,5 bulan tinggal sehotel dan mengerjakan project bersama tukang hobi maen kartu semasa kuliahnya (read: Yogi) membuat gw jd gak cuma bisa main cangkulan dan poker saja sekarang. Sekarang gw jd bisa bermacam permainan kartu. This is due to no entertainment place we can hang out to while we were in Sangatta. So we could only stay in hotel in weekends. Salah 1 permainan yg kami mainkan adalah Hahu. Aneh banget emang namanya. Wanna know why it was called Hahu?

Hahu (>3 players), adalah permainan sangat sederhana namun bisa bikin otak kita panas. Let me tell how to play this game. Misalnya ada 5 orang nih. Masing2 buka 1 kartu, so there are 5 cards on the table, right? Berarti juga ada 5 angka, misalkan angka2nya adalah : 4, 3, 5, 8, dan 9. Nah, now, each of us must use our brain, gimana caranya dgn menggunakan 5 angka tersebut, dijumlah/dikurang/dibagi/dikali/dipangkat/diakar/dilogaritma/terserah-kalo-lo-mampu, yg penting hasil akhirnya adalah 50 (karena ada 5 kartu, kalo ada 4 kartu ya hasil akhirnya 40, gitu). Ngitungnya dalam hati aja. Begitu tau gimana caranya, yg tau langsung teriak, eh ga usah teriak ding, nanti tetangga sebelah marah2 krn berisik (based on experience, ha3), “HAHU!“. Tunggu sampai hingga akhirnya tinggal 1 orang yg belum ngomong “HAHU”. Yang udah ngomong HAHU, bisa diam aja menunggu atau ikut manas-manasin yg belum ngomong “HAHU”, wkwkwkwk… The last person yg belum ngomong HAHU, kemudian menunjuk salah 1 dari teman2nya yg sudah ngomong “HAHU” (siapa tau aj ad yg boong kan, pura2 ngerti caranya, atau yg sering kejadian jg tuh orang udah ngomong HAHU, tapi lupa lg caranya) dan meminta dia untuk menjelaskan bagaimana formulanya jadi angka 50. Kalau si orang itu berhasil menjelaskan, semua kartu di meja jd buat si orang yg belum ngomong HAHU itu, kalau tidak ya sebaliknya. Nah, begitulah terus caranya. Makin banyak orang makin seru. Paling banyak kemarin gw bermain dgn 8 orang, jadi harus membuat otak kita bekerja keras hitung supaya jadi angka 80, mampoooosss…

Yg gw jelaskan di atas adalah Hahu level 1. Supaya lebih menantang lg, bisa naik ke level 2. How? Caranya adalah… Misal dengan 5 orang yg sama tadi. Bagi kartu ke kelima orang tsb. Jangan bagikan kartunya semua. Kartu yang tidak dibagi pasti ada di tumpukan. Sebelum masing2 orang membuka 1 kartunya masing2, buka 1 kartu di tumpukan paling atas dan lihat angkanya. Misal angkanya adalah 3. Jadi, hasil akhir perhitungan nanti harus = 50 + 3 = 53. Lalu tutup dan kembalikan kartu yg ber-angka 3 tadi kembali ke bawah tumpukan, krn kartu itu tidak bisa digunakan untuk perhitungan, hanya utk nambahin hasil akhir aja. Then players open each of their cards, lalu kembali, gimana caranya dgn tetap menggunakan kelima kartu di meja, bisa menghasilkan nilai 53. Untuk memulai putaran yg baru, buka lagi kartu baru dr tumpukan teratas, misal 1, ya berarti hasil perhitungan harus menjadi 51. Begitulah.. Simple rule as I said, right? Permainan ini mgkn ga baek dimainkan terlalu lama, atau otak bisa panas terus meledak…

Untuk kartu yg bergambar, seperti Jack, Queen, King, semua bernilai 10. Lalu, setiap angka di kartu yg terbuka hanya bisa dipakai sekali. Kalau mau canggih pake akar-akar-an, boleh2 aja. Misal mau akar pangkat x, nah angka x tersebut harus merupakan angka yg terdapat pada kartu2 yg dibuka di meja. Gak bisa akar pangkat 2 tapi angka 2 nya ga ada di salah satu kartu yg terbuka di meja.

Sebenarnya banyak permainan kartu lain yg udah gw pelajari dan mainkan selama di Sangatta kemarin. Si yogi yg jadi guru gw. Games yg mengawali rutinitas permainan kartu setiap malam minggu kami di hotel kutai permai adalah permainan KARTU SETAN, yg baiknya dimainkan jika ada lebih dari 4 orang, dan merupakan permainan yg sama sekali ga butuh mikir, hanya keberuntungan. Yang kalah (yg megang kartu setannya), diberi hukuman jongkok. Kalau kalah lagi d putaran berikutnya, dsuruh jepit korek api di leher. Kalah lagi di putaran berikutnya? Jepit remote AC atau tipi di ketiak.

Beginilah suasana kamar 301 yg menjadi markas para penghuni kuper berkumpul utk maen kartu…

Yogi dikelilingi orang2 yg tertawa di atas penderitaannya

Bukan cuma Yogi, yg laen, seperti si ki daus yg sakti pun pernah juga jadi the loser one…

Kinda miss those moments with the kupers (that’s what I called them… hehe)…

Photobooth in MacBook

Ada satu aplikasi keren di MacBook yang bisa membuat kita tertawa2 sendiri. Gw sering meminjam MacBook orang (punya si cumi) di kantor Sangatta untuk menggunakan aplikasi lucu tersebut untuk sekedar mengisi kejenuhan dalam mengerjakan project assignment. Nama aplikasi yg gw maksud adalah Photobooth. Some of you may ever heard and used it, since it is one of standard applications installed in every MacBook. This photobooth allows us to take pictures with very funny effects. Wanna see the funny effects? Check these pictures out…

Yang Anda lihat di bawah ini adalah manusia biasa, bukan alien, hehehe…

My friend tried it too… Hahahaha….

Then, we all tried it….

Bahkan meniru gaya anak alay, hahahaha…

Sebenernya bukan cuma di Photobooth kita bisa menggunakan effect2 semacam ini, di Cyberlink Youcam (seperti di laptop HP dan Compaq) juga bisa kok pake effect lucu seperti itu. Cuma gw pertama kali mencobanya dari MacBook-nya si cumi itu. Dan gw, setelah punya laptop Compaq selama 1.5 tahun, baru sadar kalau ternyata dengan Cyberlink Youcam di laptop gw ini bisa juga foto dengan menggunakan effect2 lucu seperti itu. Ahahahahaha,, telatnya terlalu banget ya gue…. Ya ampun, Hanifaaahhh… *geleng-geleng pala sendiri….

Meet The Congers, the New Breakthrough Artist…

The Congers merupakan grup musik baru dengan komposisi 4 orang cantik dan 1 orang ganteng, terdiri atas Daly (vokalis 1), Welly (vokalis 2), Hanifah a.k.a Hanicong a.k.a Ipeh (vokalis 3), Tias a.k.a Kunti (vokalis 4), dan Chepita (vokalis 5). Terbentuknya The Congers berawal dari kekompakan, ketekunan, dan kepedean mereka dalam memamerkan suara indah mereka dimanapun (seperti di tempat2 karaoke legal, dalam kelas, dalam mobil, hingga dalam kamar mandi) dan kapanpun (dari SMA, kuliah, sampai sekarang). Hingga akhirnya setelah 5 tahun berkarya dalam dunia perkaraokean, di sebuah kafe & studio rekaman di kawasan Jakarta Selatan, mereka berlima berinisiatif untuk merekam suara mereka masing2 kemudian menamai grup mereka sebagai “The Congors”. Namun karena ada kesalahan dari tukang rekaman mereka yang salah membaca huruf O kedua menjadi huruf E, jadilah nama grup mereka menjadi “The Congers”.

Konsep musik yang The Congers tawarkan merupakan musik yang bergenre pop alternatif, karena memang sebaiknya lagu mereka ini didengarkan sebagai alternatif paling sangat amat terakhir, dan sebaiknya Anda dengarkan ketika Anda sedang mengalami masalah buruk agar Anda jadi sadar bahwa ada yang lebih buruk dari masalah pribadi Anda (yaitu suara2 vokalis The Congers). Album perdana mereka yang diberi nama sesuai dengan nama grup mereka berisi 6 lagu remake terkenal, dan tidak hanya lagu Indonesia, tetapi ada juga 2 lagu Barat, antara lain “Hanya Dirimu”, “I Still Believe”, “Sadis”, “Take A Bow”, “Yang Ku Tahu Cinta Itu Indah”, dan “Terpesona”. Awal mulanya, mereka melakukan rekaman karena iseng belaka atau untuk koleksi pribadi. Namun, mendengar kualitas suara The Congers yang (sedikit) di atas rata-rata (orang bersuara fals), pihak studio rekaman berniat mencari mereka dengan memasang foto wajah mereka (dr sampul CD mereka) dgn berlabel “WANTED” di seluruh penjuru kota Jakarta agar mereka bisa kembali ke studio rekaman itu. Akan tetapi, niat mereka menjadi tidak perlu diimplementasikan, karena ternyata para personil The Congers sudah lebih dulu (dengan pedenya) meninggalkan nomor hape mereka (tanpa diminta) supaya pihak studio rekaman tidak perlu capek2 mencari lagi.

Setelah melalui pertimbangan dan perdebatan panjang lebar kali tinggi, The Congers pun akhirnya memenuhi undangan pihak studio rekaman itu. Ketika bertemu, produser studio rekaman langsung, tanpa basa-basi, menawarkan mereka sesuatu yang berada di luar dugaan mereka. Bukan, ternyata produser itu bukan menawarkan rekaman. Produser itu awalnya meminta CD album perdana mereka, lalu meminta para crew nya untuk segera membumihanguskan satu-satunya CD yang berisi suara mereka tersebut, karena jika CD tersebut diperbanyak dan beredar, para pendengarnya bisa mengalami serangan jantung, kanker, impotensi, serta gangguan kehamilan dan janin.

Namun, hal itu justru tidak menyurutkan semangat juang para anggota The Congers untuk kembali menerbitkan album kedua mereka. Bertempat di sebuah restoran dimsum all-you-can-eat-if-you-can terkenal di kawasan Jakarta Utara, mereka kembali berkumpul untuk merencanakan perilisan album kedua mereka. Mereka pun memutuskan untuk merilis album bertemakan lagu2 religi yang akan diterbitkan di bulan Ramadhan nanti. Ya, lagu2 religi mereka nanti pasti akan membuat para pendengarnya insyaf dan tobat. Insyaf dan tobat untuk tidak lagi mendengarkan suara2 mereka. Ahahahahahaha….

Inilah cover dari album perdana “The Congers”. Karena belum (bukan tidak) ada satupun studio rekaman yang berminat memasarkannya, maka jika Anda penasaran, Anda bisa mendapatkannya di toko-toko bahan bangunan kesayangan Anda.

Album Perdana Kami...

Ekskusif, suasana rekaman album pertama “The Congers”…

Salah tiga anggota "The Congers"

Dan tunggu kemunculan album kedua “The Congers”….. Hahahahahah…

In one of my best friends’ engagement….

It was a sunny Sunday (June 5, 2011) when Wulan & me went to the rainy city, which is also know as Bogor. For what? Yeah, for an engagement ceremonial of our best friend, Fitria. Not only me & Wulan attended it, but also Karin & Sinta. Others couldn’t come. It was the first engagement ceremonial i’ve ever attended, and I didn’t have any idea how engagement ceremonial looked alike. Karin & me had also no idea what kind of costume we should wear to an engagement ceremonial (so Karin & me, fussing about small stuffs, heheheh), till I finally told Karin “just wear anything but t-shirt“, ha3, pathetic us…. When my second elder sister got engaged, I was still in 2nd grade of senior high school, and I don’t remember anything about the engagement except that my mom had cooked many enough foods for the ceremonial (kalo soal makanan aja, gw inget, ahahaha…).

Fitria’s engagement made four of us envy it and wonder when our turn will come. It’s natural feeling, i think, especially for single ladies like us, hahahaha… We were happy and sad at the same time, but of course the portion of happy feeling is bigger than the other one. Before we went home, we asked Fitria to tread each of our foot so her love luck will spread to four of us, too, hahahaha… Anyway, congratulation for the engagement, Fitria. I don’t know whether I could come to your wedding, that you said by the end of this year, but if God allows, I will come definitely. May everything that you, your husband-wanna-be, and your family plan for the wedding run smoothly. We love you, muach, muach!

Four of us with the happy couple.... 🙂

Minta diinjek satu2 ama kakinya Fitria 😀