Solusi : All-Size Shoes !

Menurut pengalaman para ibu hamil di sekeliling saya, ketika hamil, size kaki akan membesar. Alhasil, harus beli sepatu-sepatu baru lagi dong, yang 1 or 2 nomor lebih besar supaya kaki muat. Namun, ketika sudah 9 bulan, lahiran, size kaki akan kembali normal. Jadi kembali harus mengenakan sepatu dengan size awal sebelum hamil. Nah, apa perlu diproduksi sepatu all size layaknya baju yang juga memiliki ukuran ‘all size‘? #asalmikir.

Advertisements

Setiap Kali Nyetel TV….

Kenapa sih harus ada ustadz ngartis?

Kenapa sih harus ada pasangan artis lebay cari sensasi seakan-akan hanya sensasi lah yang mereka bisa jual, bukannya keindahan suara mereka?

Kenapa sih harus ada berita “PENTING” yg isinya CUMA menyoroti seorang artis solat Ied pake Merci seakan-akan belum pernah masuk tipi? Atau menyoroti pasangan artis kaya baru ngasih THR ke belasan pembantu rumah tangganya seakan2 gak ada lagi yg lebih kaya dari mereka?

Daripada hati berucap seperti itu setiap menonton acara-acara gosip sekarang, mending gak nonton sama sekali. Dulu menonton acara2 gosip itu masih bisa menjadi salah satu bentuk hiburan tersendiri. Sekarang, karena makin banyak artis lebay isi beritanya jadi makin tidak penting & tidak ber-value added, malah mengajarkan kita bukan untuk rendah hati malah menjadi tinggi hati, mending nonton Discovery Channel aja sekalian. Masih lebih menghibur.

Movie Quote : Kung Fu Panda 2

This is the part of Kung Fu Panda 2 movie that I like the most. The conversation part when Po came to Master Croc & Master Ox’s prison to set them free and ask them to fight against Shen who will destroy Kung Fu, but they (Master Croc & Master Ox) refused to join Po. And here what Po said against their refusal….

Master Ox: It’s time to surrender, panda. Kung Fu is dead.
[in despair]
Po: I…ooh…you…you…! Kung Fu is de…ad! Fine! You stay in your prison of fear, with bars made of hopelessness. And all you get are three square meals a day of shame!
Master Croc: With despair for dessert.
Po: We’ll take on Shen. And prove to all those who are hungry for justice and honor, that Kung Fu still lives!
[a boar in one of the prison cells shouts bleakly]
Boar: Yeah!

Yes, those bold lines are my most favourite line Po said. What’s yours? 😀

Lebaran & Tradisi Angpao

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H. Mohon maaf lahir & batin.

-Hanifah & Deky Fitriady sekeluarga”

Heeey, this is my first lebaran with my husband and his family. Generally, lebaran di Jakarta or Samarinda have not much difference sih. Di jakarta saya biasa jadi seksi penganyam ketupat, begitu juga disini. Kue-kue lebaran juga menjadi tradisi di mana saja. Tiga kue paling standar adalah nastar, putri salju, dan kastangel. Kalau bedanya ya jika biasanya dulu saya menerima angpao, sekarang naik satu level menjadi pemberi angpao (hehe). Entah bagaimana asal mulanya tradisi memberi angpao di hari lebaran ini. Mungkin maksudnya supaya bukan cuma orang dewasa yang sudah bekerja saja yang dapat THR, tapi anak kecil jg dapat.

Saya, suami, dan mertua sudah menyediakan angpao dengan 3 jumlah uang berbeda di dalamnya. Uang yang paling besar untuk anak2 tetangga dekat, yang paling kecil untuk anak2 tetangga jauh yang bahkan kami tidak kenal sama sekali. Anak2 yang kami tidak kenal sama sekali ini yang menjengkelkan kami. Mereka itu anak dari entah komplek mana. Su’udzon nya saya mereka ini sebenarnya anak2 pengemis / pengamen jalanan yang berpakaian rapi, bergerak door-to-door tanpa malu dan sopan santun mendatangi & masuk ke rumah2 yang sedang open house demi mengharap diberi angpao. Ya bagaimana mungkin saya tidak su’udzon? Mereka (segerombolan anak kecil tanpa orang tua or dewasa) nyelonong masuk langsung duduk sebelum kami persilahkan, tanpa Assalamu’alaikum (ya mungkin mereka mengucapkannya tapi cuma utk basa-basi), gak pake saliman dulu, lalu diam aja (nunggu diberi angpao). Kami, tuan rumah ya cuma saling liat2an heran, menyuguhkan mereka makan kue2 di meja, trus karena mereka jg diam aja, akhirnya kami beri angpao sambil bilang “salim dulu dong harusnya dari awal“. Lalu, begitu dapat angpao, mereka balik kanan gerak jalan keluar pintu. Doh! #tepokjidat. Hari raya harusnya jadi hari silaturahmi, lah mereka ini mana silaturahminya?

Gak cuma 1 rombongan, tapi banyak rombongan berbeda yang datang. Ya karena niat mereka cuma minta angpao seperti pengemis tanpa sopan santun begitu, kami cuma beri angpao isi 2000 saja. Lebih parah lagi, ketika mereka berteriak “Assalamu’alaikum” namun tak digubris, dengan lantangnya mereka berteriak “ah pelit!“. Astaghfirullah, siapa sih yang mendidik mereka seperti itu? Atau jangan2 orang tua mereka yang menyuruh mereka berbuat itu di hari raya? Biar mereka jera, harus ada kekompakan dari semua keluarga yang mengadakan open house utk menegur mereka setiap gerombolan itu, tidak memberi angpao sama sekali atau beri saja angpao kosong. Seperti halnya dengan kita yang tidak mau memberi uang kepada pengemis2 di setiap perempatan jalan, bukan karena kita tak punya rasa belas kasihan, tapi karena kita tak mau mental pengemis mereka semakin berkembang dan makin banyak orang yg sebenarnya mampu bekerja menjadi pengemis.

Jadi tolong ya, karena banyak teman seumuran saya yang baru melahirkan anak pertama mereka dan sedang hamil menunggu kelahiran bayinya, bagi para ibu baru dan para calon ibu, tolong nanti jangan didik anak menjadi anak yang suka meminta. Ajarkan mereka bahwa tangan di atas sangat jauh lebih baik dari tangan di bawah. Entah bagaimana caranya, lebaran tahun depan, akan saya beri pelajaran bagi para pengemis angpao (jika masih ada, semoga aja tahun depan tidak ada lagi yang tidak sopan seperti itu).

Worst Flight Experience Ever

Dalam 2,5 tahun terakhir ini, sudah banyak kali saya melakukan perjalanan dengan menggunakan jasa penerbangan. Setiap 3 atau 4 bulan sekali pasti saya terbang antara balikpapan-jakarta (karena pekerjaan saya di Kalimantan sementara rumah di Jakarta). Tapi, walaupun frekuensi terbang saya cukup sering, saya cuma pernah dan biasanya cuma mau menggunakan antara 3 perusahaan jasa penerbangan. Paling sering dan terpercaya ya GIA, tapi kalau range harga GIA ini lagi tinggi dan saya sedang tidak dibayar kantor, maka LA lah pilihan kedua (murah & banyak pilihan jamnya, walaupun raja delay). Akhir2 ini, baru saja mencoba CL, selain karena murah jg masih anak perusahaannya GIA, so this airline supposed to be reliable, too. Other airlines I don’t mention, I can’t trust them yet.

Kemarin2 saya merasa tidak pernah mengalami kesialan dalam hal penerbangan. Paling dongkol waktu itu ya karena delay sejam naik LA. Tapi entah kenapa, dalam 3 penerbangan terakhir yang saya lakukan, kesialan lah yang saya dapat. Salah satunya pernah saya share pada post ini. Selain itu, pernah sudah beli tiket (BPN-JKT pp) jauh2 hari untuk saya dan pacar, ternyata mendekati keberangkatan kami berdua harus training di Jakarta, yang sebenarnya dapet free ticket dari kantor, sehingga kami harus reschedule penerbangan JKT-BPN kami dan merelakan 2 tiket kami hangusssssss (andaikan tiket pesawat bisa dijual).

Yang terakhir ini, penerbangan dari JKT-BPN, menggunakan CL, merupakan paling paling menyebalkan yang pernah saya alami. Pertama, saya sudah booking tiket dari 2 bulan sebelumnya. 1 bulan sebelum jadwal, tiba2 ada notifikasi jadwal penerbangan mengalami perubahan semua (sehari CL hanya ada 2 kali penerbangan BPN-JKT). Geger lah saya, karena berubahnya super drastis. Jadwal yang menjadi terlalu malam saya reschedule kembali jam sore (their first flight). Saya reschedule via telepon dan operatornya menyanggupi (ya iyalah harus bisa, secara mereka yg ubah jadwal seenaknya), tinggal saya tunggu email konfirmasinya. Satu kali 24 jam kemudian, email notifikasi tak kunjung datang. Saya telpon lagi dong. Apa kata mereka? Mereka bilang maaf tidak bisa proses sekarang, tapi harus tunggu karena banyak yang reschedule juga, jadi mereka mendahulukan proses reschedule penerbangan2 yang lebih dulu dari saya. Dia minta saya tunggu 3×24 jam utk proses & email konfirmasinya. Okaaay, I’ll wait… Tiga hari kemudian….. Emailnya tetep gak ada. Oh My Lord, reschedule bukannya tinggal click and done ya? Biasanya airline lain bisa tuh dalam hitungan menit. Kalau alasan mereka hrs antri & mendahulukan proses reschedule penerbangan2 yg lebih awal dari saya, apa perlu waktu selama itu? Jam terbang mereka juga tidak sebanyak airline lain. So I called them back, protes kenapa 3 hari blom ada jg padahal janjinya 3 hari, lalu baru deh mereka proses saat itu juga dan akhirnya email notifikasi baru ada.. *Grrrr…*

Kesialan itu ternyata tidak ada apa-apanya dibanding dgn apa yg terjadi setelahnya. Saat H-1 hari terbang dari JKT-BPN, ada sms masuk memberitahukan jadwal diundur 30 menit. Aje gile, mereka udah rombak schedule di awal kemarin, harus diundur pula sekarang. Sampe bandara, guess whaaattt.. Delay lagi 30 menit. As the rule said, delay di bawah sejam, kami dapat makanan ringan. Setelah 30 menit, masuklah kami ke dalam pesawat. Udah mundur sejam lebih dari jadwal keberangkatan, masuk pesawat, apa kami langsung berangkat? Harusnya sih gitu. Tapiiii.. *this is the most annoying*.. kita harus menunggu lagi selama kurang lebih 45 menit DI DALAM PESAWAT karena harus antri take off di bandara. Lalu lintas sedang padat, kata mereka. They’re so smart, aren’t they? Kami disuruh masuk pesawat padahal belum langsung berangkat, harus menunggu total selama 2 jam, seolah-olah kesalahan keterlambatan yang terakhir bukan dari pihak airline, tapi dari pihak bandara. Padahal jika bandara dan airline berdebat soal ini, bandara mungkin akan menyangkal “Ini kesalahan airline. Kalau airline tidak telat, antrian take off tidak akan terjadi“. Sehingga, airline CL ini tidak memberi kompensasi apa2 lagi (harusnya di atas 1 jam delay dapat makanan berat). Bayangkan, saya & suami, kelaparan & bete tingkat dewa, menunggu dalam pesawat, ditambah lagi saya sedang mengalami nyeri haid hari pertama. Saya tidak nafsu makan, suami terpaksa memesan pop mie (karena cuma ada menu itu di dalam pesawat) seharga 20ribu. Complete super bad tempered! Untung ada suami-baru-berusia-4-hari yang menemani (despite of all suck things happened that day, hehe).

Yah, mungkin orang lain pernah mengalami hal yang lebih menyebalkan dari pengalaman saya ini. So far, ini yg paling menyebalkan buat saya *jgn sampe terjadi lagi yg lebih menyebalkan*.  Saya sebagai salah satu dari jutaan penumpang pesawat yang sering dirugikan, hanya bisa berharap perusahaan airline CL dan lainnya terus meng-improve kualitas mereka, terutama dari segi jaminan keselamatan & pelayanan. We, passengers, didn’t spend much Rupiahs to get some disappointment & unsatisfactory. Nobody wants it.