Lebaran & Tradisi Angpao

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H. Mohon maaf lahir & batin.

-Hanifah & Deky Fitriady sekeluarga”

Heeey, this is my first lebaran with my husband and his family. Generally, lebaran di Jakarta or Samarinda have not much difference sih. Di jakarta saya biasa jadi seksi penganyam ketupat, begitu juga disini. Kue-kue lebaran juga menjadi tradisi di mana saja. Tiga kue paling standar adalah nastar, putri salju, dan kastangel. Kalau bedanya ya jika biasanya dulu saya menerima angpao, sekarang naik satu level menjadi pemberi angpao (hehe). Entah bagaimana asal mulanya tradisi memberi angpao di hari lebaran ini. Mungkin maksudnya supaya bukan cuma orang dewasa yang sudah bekerja saja yang dapat THR, tapi anak kecil jg dapat.

Saya, suami, dan mertua sudah menyediakan angpao dengan 3 jumlah uang berbeda di dalamnya. Uang yang paling besar untuk anak2 tetangga dekat, yang paling kecil untuk anak2 tetangga jauh yang bahkan kami tidak kenal sama sekali. Anak2 yang kami tidak kenal sama sekali ini yang menjengkelkan kami. Mereka itu anak dari entah komplek mana. Su’udzon nya saya mereka ini sebenarnya anak2 pengemis / pengamen jalanan yang berpakaian rapi, bergerak door-to-door tanpa malu dan sopan santun mendatangi & masuk ke rumah2 yang sedang open house demi mengharap diberi angpao. Ya bagaimana mungkin saya tidak su’udzon? Mereka (segerombolan anak kecil tanpa orang tua or dewasa) nyelonong masuk langsung duduk sebelum kami persilahkan, tanpa Assalamu’alaikum (ya mungkin mereka mengucapkannya tapi cuma utk basa-basi), gak pake saliman dulu, lalu diam aja (nunggu diberi angpao). Kami, tuan rumah ya cuma saling liat2an heran, menyuguhkan mereka makan kue2 di meja, trus karena mereka jg diam aja, akhirnya kami beri angpao sambil bilang “salim dulu dong harusnya dari awal“. Lalu, begitu dapat angpao, mereka balik kanan gerak jalan keluar pintu. Doh! #tepokjidat. Hari raya harusnya jadi hari silaturahmi, lah mereka ini mana silaturahminya?

Gak cuma 1 rombongan, tapi banyak rombongan berbeda yang datang. Ya karena niat mereka cuma minta angpao seperti pengemis tanpa sopan santun begitu, kami cuma beri angpao isi 2000 saja. Lebih parah lagi, ketika mereka berteriak “Assalamu’alaikum” namun tak digubris, dengan lantangnya mereka berteriak “ah pelit!“. Astaghfirullah, siapa sih yang mendidik mereka seperti itu? Atau jangan2 orang tua mereka yang menyuruh mereka berbuat itu di hari raya? Biar mereka jera, harus ada kekompakan dari semua keluarga yang mengadakan open house utk menegur mereka setiap gerombolan itu, tidak memberi angpao sama sekali atau beri saja angpao kosong. Seperti halnya dengan kita yang tidak mau memberi uang kepada pengemis2 di setiap perempatan jalan, bukan karena kita tak punya rasa belas kasihan, tapi karena kita tak mau mental pengemis mereka semakin berkembang dan makin banyak orang yg sebenarnya mampu bekerja menjadi pengemis.

Jadi tolong ya, karena banyak teman seumuran saya yang baru melahirkan anak pertama mereka dan sedang hamil menunggu kelahiran bayinya, bagi para ibu baru dan para calon ibu, tolong nanti jangan didik anak menjadi anak yang suka meminta. Ajarkan mereka bahwa tangan di atas sangat jauh lebih baik dari tangan di bawah. Entah bagaimana caranya, lebaran tahun depan, akan saya beri pelajaran bagi para pengemis angpao (jika masih ada, semoga aja tahun depan tidak ada lagi yang tidak sopan seperti itu).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s