Cengeng

Ini kelemahan gue. Selain memoryless, ya. Gak tau kenapa gw ini cengeng. Di usia 25 tahun ini. Salah satu teman dekat MT gw, jg menyetujui ketika gw menyebut diri gw adalah cengeng. Menjadikan gw mirip seperti tokoh Rachel di serial FRIENDS. Membuat gw sedikit lega bahwa ada seorang wanita dewasa lain (meski hanya di tv) yang juga cengeng. Terlebih lagi, perubahan hormon (estrogen, progesterone, dan gonadotropin or hCG) saat kehamilan membuat emosi para bumil menjadi lebih labil dan emosionil. Denger berita sedih, nangis. Nonton film sedih, nangis. Marah, juga nangis. Hedeh…

Soal marah… Hmmm… Actually, gw gak bisa marah. Marah yang dalam artian mengungkapkan kemarahan kita dengan kata-kata alias ngomel2. Kalo ada yg denger gw ngomel2, itu berarti gw bukan marah yang bener-bener marah. Memang sedikit aja sih hal2 yang bisa bikin gw marah, yang tampaknya dipengaruhi oleh tipe personality gw yang plegmatis damai dan steady. Tidak menyukai konfrontasi atau konflik. Tapi kalau gw marah, gw cenderung diam, gak bisa ngomel2. Karena kalau gw ngomong saat marah, gw akan nangis. Jadi itulah kenapa gw jarang bisa mengungkapkan apa yang ada di hati gw saat gw berada di kondisi yang emosional. Yaitu karena untuk menghindari kecengengan gw. Lebih baik gw diam hingga emosi gw mereda. By then, I’ll be able to talk about my previous anger. Satu hal, meski gw diam saat gw marah, gw gak pernah yang jadinya nyuekin orang. Mungkin gw akan lebih pendiam saat marah, lebih sedikit berbicara, tapi tetap menanggapi orang lain, even sang objek kemarahan gw. Bukan yang langsung nyerang or sebaliknya yg nyuekin sama sekali. Gw berada di tengah-tengah. Gak nyerang, gak juga nyuekin. Menghindari konfrontasi, seperti yg gw bilang. Tapi kalo gw marah soal benar & salah, jika gw benar, gw akan nunjukin dgn bukti, tanpa banyak kata2 kemarahan, kalo gw benar.  Nah, kalo disuruh memilih, lebih baik diserang or dicuekin, gw akan memilih lebih baik gw diserang kemarahan orang. At least gw jd tau kesalahan gw or penyebab kemarahan orang. Gw benci banget dicuekin. Dicuekin tanpa gw tau apa kesalahan gw, justru akan membuat gw marah. Ujung2nya, nangis. Huhhhh…

Jadi, cengeng itu ada manfaat positifnya juga kan (buat gw)? Cengeng membuat gw lebih baik diam, tapi terhindar dari rajukan yang tidak perlu atau mengeluarkan kata-kata kemarahan yang mungkin akan disesali setelah kemarahan mereda. Dan untuk calon baby-ku, klo gw nangis, gw akan menenangkan si baby (krn gw yakin, ikatan batin ibu & anak sudah terjalin sejak dia muncul dalam perut), seperti ini: “Mama nangis tapi mama gak stress, kok sayang.. Mama ini cuma sedang mengeluarkan hormon opoid dan oksitosin yang bagus buat kesehatan karena bikin lebih lega, rileks, dan peredaran darah lebih lancar.” Semacam salah 1 bentuk penenangan dan aplikasi dari mencerdaskan bayi sejak janin, hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s