Eleven Hours, only in A mall…

I seldom have a fun weekend, lately. But thanx God, recently I don’t feel bored at weekend. As I’ve said, last two weeks I joined biking activities and last weekend I just had a fun Saturday night with my friends from MT27 (FYI, i was a member of MT28), which have projects in Satui (Zul 28 & Yeri 27) and Tanjung Adaro (Agung 27 & Mifta 27). I even passed my driving lesson that day just to be with them. Why do I enjoy spending time with them? Because we basically have same humor sense. I couldn’t stop laughing and joking with them and we all went crazy together.

Unfortunately, we were having Saturday night in Banjarmasin, a city with only one mall and one cinema, and doesn’t have various hang-out place at night as many as Bandung or even Balikpapan. But still, our weekend night was not ruined either, we could still have fun. We had lunch, we played game, we watched Harry Potter 7, then dinner, and finally 2 hours of karaoke. Totally, how many hours we spent only in one mall? 11 hours! Too bad that by Sunday afternoon, they had to go back to Tanjung & Satui. So, hopefully, we can have some fun again together next time, with more people joined too.

Ki-Ka : Om Mifta - Bang Zul - Agung - Yeri

Karaoke!

Serasa anak-anak lagi

Advertisements

Wisa, Wisa, Wisa….

Wisa itu seperti surat ijin tinggal di suatu negara? Bukan, itu visa! Wisa itu suatu bentuk acara keagamaan umat Kristen? Bukan juga, itu Misa! Wisa itu seperti yg ada di lagu band-nya Hello kan, “Wisa-wisanya aku terlena”? Bukaaan, itu ‘bisa’! Hehehehe… So, apa itu Wisa?

Jgn ngerasa minder kalo belum tau istilah Wisa ini. Gw jg baru tau sekitar 2 minggu-an yg lalu. Bahkan ada orang asli Banjar yg sekarang tinggal di Samarinda menanyakan apa itu wisa ke gw yg sama sekali bukan orang Banjar. Hehehe… Jadi, iya, mungkin wisa hanya diketahui oleh warga Banjar dan sekitarnya. Wisa itu bukan nama makanan bukan juga nama hewan. Wisa itu nama suatu penyakit. Orang2 KalSel lah yg memberi nama penyakit ini. Istilah kedokterannya? Tidak ada. Ya, karena even dokter pun tidak tahu bagaimana cara menyembuhkan penyakit ini.

Jadi, apa itu gejala-gejala penyakit Wisa? Gejala2nya hampir sama dengan penyakit kuning. Keseluruhan badan menguning, bahkan gigi pun sampe ikut2an menguning. Demam tinggi. Bahkan ada yg sampai muntah darah dan sulit untuk bangun.

Dimana dan bagaimana orang bisa terkena wisa? Kabarnya, penyakit wisa disebabkan karena tubuh kita terkena racun. Racun apa? Kurang tau, tapi katanya racun itu sengaja disebarkan oleh orang2 pedalaman yang memiliki kebun ke sekitar luar kebunnya, dengan tujuan agar tidak ada yang mengganggu kebun2 mereka. Ya lalu, gw tanya kan “gimana cara menyebar racunnya?”. Orang yg gw tanya tidak begitu tahu juga, tapi menurut dia racunnya disebar dengan bantuan semacam makhluk halus. Biasanya racun2 itu disebar di waktu-waktu tertentu saja, kira2 sekitar senja atau menjelang/setelah maghrib. Gw jg kurang tau media penyebarannya lewat apa, apakah lewat air atau udara. Karena ada yg terkena racun wisa itu ketika ia sedang mandi di sungai saat sore.

Gimana cara nyembuhinnya? Ada yg dibawa ke dokter, dirawat selama 10 hari, tapi tetep tidak bisa sembuh. Akhirnya sang pasien dibawa ke semacam orang ahli (entah dukun atau apa ya namanya) yg juga berada di daerah tertentu saja, kemudian disembuhkanlah oleh si orang ahli ini. Sang pasien dibawa ke orang ahli ini siang hari, dan ternyata malamnya si pasien -yg selama 10 hari di rumah sakit tidak sembuh2- sudah bisa sholat kembali. Apa yg dipakai si orang ahli ini utk menyembuhkan si pasien? Katanya sih cuma menggunakan air dan daun serta entah apa lagi. Yaaa bahan2 alam gitu deh. Apa disertai dengan bacaan2 doa dan mantra segala? Entahlah, kurang tau juga. Ada jg yg bilang bahwa cara menyembuhkan penyakit ini adalah si pasien harus diungkep (seperti ditimbun) menggunakan kembang2an.

Nah, gimana cara mencegahnya? Mereka cuma bilang hati2 saja kalau sedang berada di pedalaman atau hutan di Kalimantan. Sebaiknya kalau sudah sore (jika lagi di pedalaman), mending tinggal di dalam rumah saja, biar tidak terkena racun wisa itu.

Agak2 mistis gitu ya? Gw udah googling mencari referensi or artikel yg khusus membahas wisa, tapi tak kunjung menemukannya. Memang hanya orang2 sini saja yg tau penyakit ini. Gw juga belum pernah main2 ke pedalaman atau hutan kalimantan, gw selama ini tinggal di kotanya saja. Ya memang, seperti kata mama dan papa (hehe), dimanapun kita berada, di kota maupun di remote area, kita musti berhati-hati. Terutama di daerah yg sama sekali tidak kita kenal. Maaf sebelumnya, jika ada kesalahan info yg telah gw berikan soal penyakit wisa ini, karena gw jg belum menemukan sumber lain. Ini juga gw dapet dari share karyawan yg pernah mengalaminya sendiri dan yg memiliki kerabat mantan pasien wisa, saat safety talk di perusahaan tempat gw berada saat ini. Mungkin, jika ada yg tau lebih soal penyakit ini, bisa share2 jg ke gw, karena gw sendiri masih penasaran dengan wisa ini. Semoga bermanfaat :).

Bike to Mandiangin & Barito

Just knew that Banjarmasin people love biking. Every weekend, Saturday and Sunday, you’ll see many people do biking, baik perorangan maupun berkelompok, di jalan2 baik dalam kota maupun luar kota. And luckily, gw dapet pinjaman sepeda dari salah seorang teman mekanik sehingga gw bisa ikutan acara “nggowes” sepeda TUSRA pada hari Minggu 14 november yg lalu. Hmm, gw terakhir naik sepeda kira2 kelas 2 SMA (No, I’m not kidding!), so i became so excited about the invitation since i used to like biking very much and i finally got cool activity to do on weekend. Tapiii,, dapet pinjaman sepeda aja gak cukup dong. Belum helm sepedanya, belum sarung tangannya. But luckily again, gw dapet pinjaman helm sepeda dan sarung tangan, hehe.. (Jadi apa yg gak gw pinjem? Baju n kacamata doang sepertinya… :p).

Medan yg dipilih utk bersepeda hari Minggu itu amat sangat menantang (well, apalagi utk ukuran newbie kayak gue), yaitu Mandiangin. Persepsi2 awal gw sebelum mulai sepedaan:

– Persepsi 1 : Jalannya pasti beraspal, kalaupun ga rata minimal berbatu lah.
– Persepsi 2 : Paling tantangannya cuma naik turun. Stamina and nafas gw pasti kuat. Meski gw udah sebulanan gak lari, tp gw kan dulu biasa lari 30 menit, bahkan pernah lari sampe 16 putaran. Jadi, gw yakin bs ngatur nafas dgn baik.
– Persepsi 3 : Pasti udara bakal panas banget deh. Siap2 menghitam.
– Persepsi 4 : Tanpa ribet2 atur gigi sepeda, gw yakin bisa bersepeda dgn lancar.

Nahhh,, apakah persepsi gw itu ada yg salah atau ada yg benar?
– Persepsi 1 : SALAH total! Jalanan tanah merah. Berbatu. Naik-turun alias fluktuatif banget. Berlumpur. Becek juga ada.
– Persepsi 2 : SALAH total! Seperti yg telah dijelaskan dgn kondisi jalan di atas, stamina bener2 terkuras. Gw beberapa kali jatuh. Sekali jatuh beneran sampe lecet lutut (hahahah,, memalukan… untung saksi mata cuma satu orang, yaitu Pak Made yg super baik, meskipun beliau tertawa pas gw jatuh). Melihat gw kewalahan, Pak Made bersedia menukarkan sepedanya dgn sepeda yg gw pake. Wah, baik bener dah, sepeda dia jelas2 lebih bagus, sampe gigi 9 gitu, jadi enteng, heheh… Dan beliau jg dgn setia nemenin gw di belakang, beri instruksi ganti2 gigi.
– Persepsi 3 : BENER! Gw udah bawa sun block sih, tapi males gw pake. Gw cuma pake kacamata hitam supaya gak silau.
– Persepsi 4 : SALAH total! Benga, karena gw msh kurang paham dgn ganti2 gigi, makanya gw sampe jatuh. Sekali lagi, untung ada Pak Made.

Secara keseluruhan, it was totally FUN and tiring of course. Kepala pusing krn kena panas, yes. Seluruh badan pegel2, yes. Sepeda jd kotor, yes. Sepatu n celana jg kotor, yes. Total perjalanan 17 Km. But I loved it.

That’s why I said “yes” for the second invitation for biking again last Saturday, 20 November. Kali ini inisiatornya adalah sang GM area dan tujuannya ke Jembatan Barito, jadi jalanan paling enggak beraspal, cuma ya lebih jauh. Peserta lebih sedikit, cuma berenam. Dan gw cewek sendiri. Alhasil, sementara para lelaki bersepeda dgn kecepatan mendekati kecepatan cahaya jauuuuh di depan, gw dgn kecepatan hampir sama dgn tukang becak menjadi tertinggal di belakang. Lagi2 bersama Pak Made yg setia menemani gw (padahal beliau bisa aja ngebut juga). Yg penting stabil dan kuat sampai tujuan, itu prinsip gw dalam bersepeda, hehe. Sampe jembatan barito? Ya foto2 dan istirahat. Berharap bisa nebeng mobil orang balik ke banjarmasin, tp ga mungkin. Untungnya perjalanan pulang terasa lebih cepat (kenapa yaa?). Di tengah perjalanan kami jg papasan dgn sekelompok bikers entah dari mana, menuju Banjarmasin. Total perjalanan 43 km (hehe..).

Ya, sama seperti olahraga2 lainnya, bersepeda bikin badan kita segar. Tapi, tentu perlu persiapan yg benar2 baik sebelum bersepeda. Here are the tips:

1. Pastikan sepeda dalam keadaan baik. Jangan pilih sepeda sembarangan. Pilih minimal dengan spec seperti ini : rem cakram, minimal shock breaker di bagian depan, memiliki minimal 7 gigi yg harus berfungsi dgn baik (kalo rusak mah mending ga usah sepedaan).

2. Pompa ban dgn tekanan secukupnya, beri cairan khusus antikarat di seluruh bagian rantai sepeda, pastikan jok sepeda tidak terlalu tinggi dan jg tidak terlalu rendah (ketika mengayuh, kaki jgn terlalu menekuk).

3. Gunakan helm sepeda (yg tidak kekecilan tentunya, haha), sarung tangan (supaya telapak tangan tidak sakit), dan kacamata hitam (lebih gaya itu pasti, hahaha, tapi yg jelas sgt berguna mencegah silau matahari).

4. Pakai lah celana khusus bersepeda, karena mengandung busa. Gw baru tau setelah sepedaan pertama kemarin. Yah taulah efeknya gimana kalau sepedaan tanpa celana khusus selama berjam2. Jalan jadi agak susah, ahahahaha…

5. To protect your skin from sun heat, if you use short sleeve t-shirt, gunakan manset tambahan. Pakai juga sun block yah… Jangan males kayak gua, alhasil muka gw belang lagi dah sekarang.

6. Siapkan botol berisi air minum! Air putih atau air isotonik, tergantung selera. Kalau pake botol aqua plastik gitu, siapin pengganjal or semacam tali or karet biar ga jatuh2 dari tempat nempelnya di frame sepeda. Kalau mau lebih enak, gunakan tempat minum yang berbentuk seperti ransel, ada sambungan selangnya ke bagian depan tubuh sehingga bisa diminum setiap saat.

7. Selain air, sedia juga hansaplast. Gw gak kepikiran waktu pertama, untung Pak Made (God bless Pak Made) menawarkan hansaplast pas gw jatuh n lecet itu :D.

8. Saran tambahan, klo pake celana panjang, pakai celana yg ringan dan yg ngepress ke kaki. Contoh seperti legging.

Beristirahat di Jembatan Barito (Ki-Ka : Pak Made - Mas Hanif - Pak Zai - Me)

Di Jembatan Barito (membelakangi sang GM area, hehe)