The Time Traveler’s Wife

The Time Traveller's Wife

As I promised, I’ll review this book when I’ve done reading it. And I already finished the reading. Ketika mata gw mencari2 buku mana yg akan gw beli di pesta diskon gramed itu, buku ini menarik perhatian gw, well, karena di sampul buku itu ada tulisan “New York Times Bestseller“. Buku ini juga sudah dijadikan sebuah film, tapiii di Indonesia entah akan ditayangkan or enggak. Gw yakin di rileks bakal ada kayanya, so I’ll just wait in Rileks,, hohohoho..

Ide ceritanya menarik dan orisinil. Tentang seorang pria bernama Henry DeTamble yg memiliki semacam kemampuan untuk berpindah2 menjelajahi waktu. Dia bisa pergi ke masa depan maupun masa lalu. Masalahnya, ia tidak bisa mengontrol kemampuannya itu. Ia bisa dgn tiba2 menghilang, muncul di suatu tempat antah berantah, di suatu waktu entah kapan. Dan ia jg bisa kembali ke masa ia hidup saat itu tanpa bisa ia kendalikan.

Ketika ia menjelajahi waktu, ia bertemu dgn seorang anak kecil berusia 6 thn, bernama Clare Abshire (yg di masa sebenarnya, mereka berdua hanya terpaut 8 tahun), yg di masa depan akan menjadi istrinya. Selama 12 thn, Clare bertemu dgn Henry dari masa depan, tapi selama pertemuan mereka, usia Henry maju mundur sesuai dengan tahun kedatangan dia. Saat mereka pada akhirnya bertemu dan menikah, Henry dan Clare ingin memiliki anak, tp Henry takut kejanggalan genetik yg ia alami akan menurun pada anaknya. Ia pun sudah berusaha menemui seorang dokter ahli utk membantunya menyembuhkan kejanggalan genetiknya itu. Sebuah fakta menyedihkan dan mengejutkan pun terpaksa Henry ketahui ketika ia menjelajahi waktu ke masa depan dan mendapatkan bahwa di masa itu ia sudah meninggal. There is a great love story in this book.

Alur ceritanya unik, diceritakan dari sudut pandang Henry dan Clare. Ceritanya bagus, tapi juga sediiiiih bangettt.. Gw bener2 ikutan sedih bacanya. Gw harap filmnya bakal ada di rileks dalam waktu dekat.. hehe.. Okay, buku yg sedang gw baca setelah buku ini adalah OUTLIERS, wait for the review.. 😀

Penggila vs Pembenci Twailait dan Nyumun

Kalo mendengar atau membaca tanggapan orang mengenai film twilight dan new moon yg baru2 ini mulai tayang, bener2 lucu. Lucunya buat gw, nih film bisa menimbulkan 2 jenis tanggapan yg saling sgt bertolak belakang, yg muncul dari dua kubu yg berbeda. Kubu pertama, kubu penggila film ini pasti mengatakan film ini baguuuuus bgt. Kalo nanya ke mereka kenapa bagus? Pasti alasannya karena “iiihh… si edward cullennya ganteng banget, dan bodi nya jacob oke abis..” dan juga karena “romantis bangeeet sih edwardnyaaa.. ngelindungin bella bgt dan apalagi tatapan matanya ke bella.. uuhh.. mau deh gw punya pacar meskipun vampir kayak si edward….“. Saking sukanya, para penggila twilight ini akan rela nonton film ini di bioskop berkali2 (bahkan yg pernah gw baca d Tempo, ada yg sampe menonton sampe 24 KALI di bioskop AJAH, *iihh menurut gw sih tu orang gila beneran), membeli keempat novelnya, dan mengumpulkan segala sesuatu berbau2 vampir dan werewolf.

Sementara kubu pembenci film ini akan mengatakan film ini film yg paling hina yg pernah ada, dan cocoknya ga jadi film, tp jadi sinetron2 yg tayang di indosiar ajah (ahahahaha). Jika nanya kubu kedua ini, kenapa film ini jelek bgt? Pasti mereka jawab karena “vampir2nya pake make up ketebelan, udah mirip banci taman lawang, ewww!” dan juga karena “ceritanya lebay abisss dan akting para pemerannya jelek bgt…” atau juga karena “OMG, nih film ratingnya di IMDB tuh cuma 4.6/10, kenapa bisa banyak bgt yg nonton sih??“. Saking bencinya mereka akan bergidik setiap kali ada orang yg menyebut ‘twilight’, ‘new moon’, ‘edward cullen’, atau ‘bella swan’, bagaikan orang2 di film dan cerita Harry Potter yang akan bergidik setiap kali nama ‘Voldemort’ disebut.

Nah, ok, gw ngaku, dulu gw termasuk penggila, tp ga gila bgt sih. Gw nonton sampe 3 kali (OMG!! kerasukan jin apa ya gw dulu?), gw beli dong empat novelnya. Udah sampe segitu aj kegilaan gw dulu. Gw dulu suka bgt krn.. yaaa.. gw menganggap si edward ganteng bgt (tp gw dulu jg ngerasa agak jijik jg krn ngeliat dy ketara pake bedak tebel bgt bo’ dan ewww-nya pake lipstik!! Omaigad!!! Tapi herannya, he still looks good though), dan memang mungkin krn gw termasuk orang yg melankolis jd gw merasa ceritanya romantis bgt buat gw. Dan ketika novel keempatnya edisi Indonesianya keluar, gw langsung kalap beli di hari terbit perdananya.

Padahal klo gw pikir2 lagi sekarang, cerita di novelnya tuh gak bgt ya ternyata, karena menurut gw konfliknya kurang bgt bgt. Misal di novel ketiganya “eclipse”, di bagian akhir ada perang antara kelompok vampir jahatnya pimpinan victoria dan keluarga vampir cullen. Eh, di novel itu, ketika adegan perang besar itu berlangsung (dan dasar si stephenie meyer yg menulis cerita ini dari sudut pandangnya diri bella melulu), yg diceritain malah adegan bella di dalam tenda, dilindungi oleh edward yg dilarang oleh bella utk ikut bertarung dan dicemburui oleh jacob yg turut serta membantu cullen menghabisi vampir2 jahat itu. Jeez, bener2 cuma ngandalin cerita cinta segitiganya ajah, tidak menonjolkan konflik action lainnya. Dan di novel keempatnya juga, masa sekonyong2 jacob fall in love dgn putrinya bella-edward yg setengah vampir-manusia itu? Aneh bgt ga sih? Dan, gw ngerasa baca keempat novelnya ini bener2 ga ber value-added, ga ada pelajaran atau meaning yg bisa kita ambil dan maknai. Hiburan semata lah buat gw, novel dan filmnya ini.

Jadi gw itu sekarang bukan penggila dan juga bukan pembenci twilight. Tengah-tengah lah. Gw masih bisa menikmati nonton film new moon kemaren tanpa merasa benci (apa karena si taylor lautner ya? ahahahaha), dan gw juga ga se-freak orang2 yg sampe melotot dan ngeces klo nonton film itu. Gw, Shany, dan Titis, sehabis nonton film itu mang merasa nih film gak meaning bgt, tp kita suka2 aja krn nih film memang hanya berfungsi sebagai vitamin A doang (bagus utk mata aja, sisanya enggak bgt), hahahaha memang kita ini aneh. Dan tdk seperti pas twilight, gw merasa nonton film ini satu kali udah lebih dari cukup. Kalo mo bandingin film new moon dgn film pertamanya yaitu twilight, ada banyak perbedaan.

Perbedaan yg pertama, menurut gw make up artist di new moon adalah orang2 yg lebih profesional, dibandingkan dgn di film pertama. Kenapa? Karena bella terlihat lebih lumayan dan para vampir2 yg di film pertama bener2 keliatan kayak banci pake bedak medok, tp di film kedua ini, terlihat sedikit lebih bagus make up para vampir2 itu.

Kedua, Jacob lebih berotot, wew.. Awal2nya pemeran Jacob sempet nyaris akan diganti krn dulu si Taylor Lautner ini tidak seberotot sekarang (apa karena itu Taylor Lautner jadi pacaran sama Taylor Swift,, hahaha). Tapi kita heran juga sih, ngapain juga para werewolf itu bertelanjang dada mulu? Udah kayak maho beneran emang.

Ketiga, ternyata sutradaranya beda. Dan gw juga merasakan ada perbedaan karakter cerita dari film twilight dan new moon. Kalo di twilight, masih ada dialog2 lucu jadi kita juga bisa at least terhibur dgn adegan2 dan dialog2 lucu di film itu (seperti kekonyolan temen2 bella ketika ngedeketin bella si anak baru, trus tingkah si bapaknya bella yg lagi ngisi peluru di senjatanya ketika si edward dateng ke rumah bella). Tapiiii di film kedua ini, gw ga ngerasa ada satupun dialog atau adegan konyol seperti di twilight.

Keempat, lagu2 OST New Moon ga sebagus OST Twilight. Di film twilight, scene favorit gw adalah scene ketika keluarga cullen maen baseball dgn background songnya lagu nya Muse berjudul Supermassive Blackhole. Sumpah tuh lagu keren bgt, jadinya gw abis nonton film itu, langsung nyari bgt soundtrack2nya (selain Muse, ada Linkin Park dan Paramore). Nah, di new moon pas gw liat lagu2nya ga sekeren twilight.

Mungkin baru tahun depan lagi, film ketiganya, yaitu “ECLIPSE” akan tayang di bioskop. Dan mungkin jumlah orang yg rela ngantri dari pagi (gw sih ogah bgt) utk menonton film ini akan seheboh twilight dan new moon atau bahkan lebih heboh lagi. Buat kubu pembenci twilight, gw tau gimana rasanya kalian. Gimana rasanya menahan diri utk tdk menghina2 sesuatu yg kita sgt gak suka. Seperti ketika gw tdk bisa menahan diri utk tidak menghina2 film KCB (hwahahaha,, sumpah masih pengen gw hina2 tuh film sampe skrg). Jadi, yaaa.. sabar2 aj ya melihat kelakuan para penggila twilight, karena masih ada 2 pelem lagi yg bakal ditayangin.. Hahahahaha….

Berlayar Bersama “PERAHU KERTAS”

perahu kertasEntah sudah berapa lama gw tidak membaca novel. Lebih dari 6 bulan yg lalu rasanya (thanx to TA). Padahal itu merupakan kegiatan favorit gw di setiap waktu luang. Terima kasih pada Karinidya yg karena sudah lulus dan menganggur (gw doakan lo dapet kerja di perusahaan oke dalam waktu dekat!! 🙂 ), membeli novel PERAHU KERTAS ini dan meminjamkanya ke gw. Kata Karin, “bacaannya ringan, cong, seringan perahu kertas“. Well, that’s what I need right now. Bacaan yg tidak berat2 amat. Nah,, berhubung gw pengguna otak kanan yg lebih suka menulis dalam bentuk point2 (hmm.. mang berhubungan yak, antara otak kanan dan menulis dalam bentuk poin2??? entah,,, hehehe), gw list aj ya,, apa-apa aja yg menurut gw nilai2 plus yg ada di novel Dewi Lestari yang satu ini.

1. Gaya bahasa
Gw adalah tipe orang yg menilai novel pertama kali dari gaya bahasanya. Kalo gaya bahasanya gak cocok, gw bisa bosan bacanya. Tapi kalo cocok, tidak terlalu formal dan berat, pasti akan nyantol dgn hati saya. Sejak halaman pertama, gw udah suka dgn gaya bahasa di novel ini. Ringan tapi berbobot. Puitis tapi tidak membosankan. Bijaksana tapi tidak terkesan berat. Begitulah menurut gw. I love it!

2. Alur cerita
Alur cerita nya jelas. Membuat kita turut mengalir. Membuat kita enak membacanya. Ga pake pusing dan ribet. Sederhana. Gak ada satupun plot yang membosankan. Satu subbab gak dibikin terlalu panjang. Gw membaca ini hanya dalam hitungan kurang dari 48 jam (dipotong waktu tidur, mandi, makan dan pergi ke kampus bentar *info yg kurang penting sebenarnya, hahaha). Intinya, alurnya pas, gak kerasa aja, tiba2 udah baca sekian ratus halaman.

3. Karakter tokoh yang unik dan kuat
Dua tokoh utama yg diceritakan di novel ini adalah Kugy dan Keenan. Dari namanya saja sudah terlihat keunikannya. Kugy dikarakterkan punya kepribadian aneh tp ekstrovert, cuek dan berantakan tp pada dasarnya cantik, selalu ceria, penuh khayalan, pintar menulis dan ingin jadi juru dongeng. Sementara Keenan dikarakterkan sebagai orang yg penyendiri, pintar melukis, tampan, spontan, pintar, dan artistik. Kugy bisa menulis tapi tidak bisa menggambar. Sebaliknya, Keenan bisa menggambar namun bisa menulis.

Dee bercerita bahwa dalam novel ini, sejak awal, dy berusaha utk membuat kedua tokoh utama (Kugy dan Keenan) yang berdiri di dua buah kutub yang berlawanan bisa bertemu di tengah segala kemustahilan. Dan itulah yg dia lakukan. Kedua tokoh ini memang diceritakan saling melengkapi. Mereka punya dua impian yg berbeda yang uniknya dapat diwujudkan menjadi satu karya bersama.

4. Cinta, persahabatan, dan impian
Jika disuruh menceritakan inti dari novel Perahu Kertas ini, gw akan menuliskan : cinta, persahabatan, dan impian. Ya, inti utamanya memang klasik. Cinta. Cinta ditambah persahabatan membuat kisah makin rumit dan berbumbu. Tapi, bukan cuma itu yg diceritakan oleh Dee di buku ini. Ada impian. Proses bagaimana seseorang berjuang dan konsisten dalam meraih impiannya. Alasan mengapa kita kadang melalaikan impian kita karena tidak realistis jika kita mewujudkan impian itu di dunia nyata. Salah satu dari sekian banyak kutipan percakapan dalam novel yg saya sangat sukai yaitu : “berputar menjadi sesuatu yang bukan kita demi menjadi diri kita lagi”. Setelah membaca buku ini, orang gak cuma dapat hiburan, tapi juga bisa dapat sesuatu, just like a lesson.

5. Cover
Memang, “don’t judge the book by its cover“. Tapi menurut gw yg lebih tepat peribahasa itu harusnya berbunyi “don’t judge the book by ONLY its cover“. Menurut prinsip gw yg gw anut selama gw kuliah di TI, packaging is very important. Kemasan itu penting! Kalo kemasan gak menarik, mana ada konsumen yang tertarik utk mencoba. Nah, sebelum gw baca dan direkomendasikan oleh teman utk membaca novel ini, ketika gw pertama kali melihat buku ini dipajang di toko buku ketika perdana diterbitkan, gw menyukai covernya. Lucu. Hehe. Terus melihat nama penulisnya yg tidak asing lagi, makin membuat gw tertarik utk ingin membacanya suatu saat nanti (satu hal yg mencegah gw utk membelinya saat itu juga adalah.. eng ing eng.. TA!).

6. Emosi
Jujur, ketika membaca novel ini, emosi gw jg ikut main. Gaya bahasa Dee sangat mendukung emosi gw bermain. Kadang tertawa, kadang juga berkaca-kaca. Sedikit novel yg bisa bikin gw ikutan membawa emosi di dalamnya. This novel is one of them.

Yah,, itu semua yg gw suka dari novel Perahu Kertas ini. Begitu tau bahwa sebenernya buku ini sudah diterbitkan dari tahun lalum namun dalam format digital. Langsunglah gw search PDF-nya. Dan nemu! Heheh, langsung deh gw donlod. Free lagi, hehehe. Bagi yg belum menikmati novel ini, atau masih ragu-ragu, bacalah! Gak bikin kecewa deh. Menghibur dan memberi kita pelajaran juga.

Oiya, sejak masih dalam tahap membaca novel ini, gw udah hampir yakin bahwa novel ini pantas dijadikan sebuah film. Dan feeling gw mengatakan bahwa buku ini pasti akan di-film-kan. Tampaknya dugaan gw menuju ke kebenaran. Tadi gw googling utk mencari gambar dari cover novel ini, dan ternyata di situs Kompas terdapat bahasan mengenai penjelmaan novel Perahu Kertas menjadi sebuah film. Bener kan feeling saya? Hehe. Entah apakah akan sebagus novelnya filmnya nanti. We will see…..

Being 20 Something Is Hard (??)

Sebenernya bingung mau nulis apa, tapi entah knapa, (walaupun mata terasa berat malam ini akibat belajar yg sia-sia, thanx tu Mrs. L*ci) jari2 tangan ini rasanya gatal ingin menulis. Hmm.. kata orang sih,, ini tuh ciri2 seorang penulis hebat masa depan.. Hahahaha,, ngarepppp…

Jadi, karena sedang tidak ada ide utk ditulis dalam blog kali ini, jadinya gw ceritain aja ttg sebuah novel menarik yg sudah gw baca sekitar 1 tahun yg lalu. Novel yg gw beli hanya utk sekedar pengisi waktu yg SANGAT luang ketika KP di IBM (hehe). Judul buku yg gw beli dari sekian buku yg gw beli saat KP itu adalah “BEING 20 SOMETHING IS HARD” (karangan Dewi Pravitasari).

cover

Penasaran donk, ketika baca judulnya. Secara gw baru aj menginjak usia 21 (udah sama kaya nama bioskop) setahun yg lalu (sudah bisa disebut 20 something, tentunya). Yah, singkat cerita, di novel ini, tokoh utama, si wanita X, sedang berada di masa Quarter Life Crisis. Apa itu Quarter Life Crisis?

Ini gw kutip dari salah satu percakapan yg ada di buku “being 20 something is hard”.

Setiap manusia punya fase kritis dalam hidupnya, yang jika tidak diimbangi dengan akal sehat bisa menyebabkan depresi berat. Hal itulah yg dinamakan Quarter Life Crisis, yang biasanya terjadi pada manusia (ga cuma cewe, cowo pun juga bisa) di usia 21-29 thn, saat mereka mulai mempertanyakan ttg dirinya, achievement apa yg sudah dia dapatkan. Anak muda yang punya banyak energy, ambisi, semangat dan impian biasanya ingin semua aspek dalam hidupnya ideal, mulai dari pekerjaan, financial sampe relationship, pinginnya semua perfect, dalam arti sesuai dengan keinginannya. Padahal saat dihadapkan dengan kenyataan, sulit kan?? Dari situlah timbul krisis itu. Pada umur2 segitu, manusia biasanya menginginkan sesuatu yang mereka “pikir” sbg bentuk achievement. Achievement itu sendiri bentuknya bisa bermacam2 untuk tiap org, bisa berbentuk kenyamanan, keamanan, kestabilan, uang, pangkat kekuasaan. Intinya sesuatu yg bisa membuat hidup ini lebih utuh.

Wuihh,, baca paragraf itu di buku, langsung lah gw berpikir “bener banget ga sih?” Kita, bisa dibilang, yg masih blom tahu bahwa betapa hidup itu bisa pahit dan tidak selalu manis (banyakan pahitnya sepertinya), pasti berharap setelah kuliah lulus, dapet kerja cepet, trus nikah di usia yg tepat, lalu punya anak, and then we live happily ever after. Apalagi, melihat kakak2 kelas kami yg kebanyakan bisa kerja di perusahaan bonafit saat ini, bikin gw merasa hidup akan berjalan seperti yg gw harapkan.

Walaupun, otak seakan meyakinkan diri bahwa semua impian gw akan tercapai (saya kan orangnya optimis mengenai hal2 beginian? hehe), tapi di hati kecil ini, tetap ada secuil rasa khawatir dan takut, bahwa semua tidak akan berjalan sesuai rencana di kepala itu. Kalaupun saya yakin one day, I’ll get everything I want, I don’t know what things need to be faced first. Yahh,, berhubung gw sudah tinggal menyelesaikan TA, lalu sidang, lalu wisuda, kepanikan ini mau gak mau tumbuh dan menetap di dalam diri.

Jadi, menurut saya, jika kita mulai berada dalam fase quarter life crisis itu, kita sebaiknya jgn merasa tertekan, merasa mengasihani diri, dan merasa terkungkung tdk bisa apa2 krn krisis tsb. Coz bisa2 malah kita ga maju2, impian ga tercapai, ujung2nya bisa depresi (gawat kan??). Just always have a positive thinking! Terus berusaha, never give up, karena semua sudah ada jalannya. Have a faith that all your dreams and your wish will come true. Meskipun melihat ke atas itu bagus (utk motivasi diri), jgn lupa utk juga lihat ke bawah. Masih banyak orang lain yg tidak seberuntung kita keadaannya (padahal jika berada dalam fase krisis spt itu, kita pasti merasa sgt tidak puas dgn diri kita kan??). Jadi, terus bersyukur, berdoa, dan berusaha. Itu kuncinya klo menurut gw, hehe. Yeah, I will recommend this book since it can open some space on your mind about your life.

Angels & Demons (Movie)

angels-demons-movie-poster

Angels & Demons akhirnya tayang… Yay! Walaupun harga weekend dan seat yg tersisa terbilang di bagian depan, kami tetap memutuskan nonton. Segitu pengennyaaa..

Seperti kebanyakan film yang diangkat dari sebuah novel, film ini pun memiliki beberapa bagian yg berbeda dari versi novelnya. Bagi yg belum baca bukunya, akan saya tulis sinopsisnya…

Bercerita ttg munculnya sebuah perkumpulan kuno yang dianggap sudah punah, yaitu perkumpulan Illuminati. Perkumpulan ini dibentuk oleh sekelompok ilmuwan masa dulu (termasuk Galileo) yang dimusuhi oleh pihak rohaniawan (gereja) saat itu karena dianggap teori-teori yang dikemukakan sgt bertentangan (seperti misalnya rohaniawan beranggapan bahwa bumi itu datar & pusat tata surya, di atasnya surga sementara di bagian bawah terdapat neraka, namun para ilmuwan menemukan bukti bahwa bumi itu bulat dan matahari sbg pusat tata surya). Legenda lain jg menyebutkan bahwa kelompok ini memiliki 4 cap bertuliskan 4 elemen ilmu pengetahuan (earth, air, fire, water) yg berupa ambigram (simetris sehingga bisa dibaca dari sisi atas maupun dari sisi bawah) dan 1 cap tambahan lainnya. Kini, ada seseorang yang mencoba membunuh 4 orang kardinal – yg merupakan calon2 utama pengganti Paus yg baru meninggal, dengan tujuan untuk membalas dendam karena perbuatan Gereja ratusan tahun lalu yang membunuh 4 ilmuwan dan mencapnya di dada dengan tanda salib sebagai peringatan bagi masyarakat utk jangan pernah menentang Gereja.

Robert Langdon (diperankan oleh Tom Hanks) yg merupakan ahli simbologi diminta utk datang ke Vatikan & membantu memecahkan sandi dan petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh pembunuh yang menjadi pertanda tempat di mana keempat kardinal yang diculik akan dibunuh. Dalam waktu yg bersamaan, pembunuh juga telah meletakkan sebuah zat antimateri yang dicurinya dari sebuah lembaga penelitian bernama CERN dan dapat meledak dan menghancurkan Vatikan & sebagian kota Roma di suatu tempat tersembunyi jika tidak segera ditemukan.

Menurut saya, jelas alurnya lebih detail dan lebih seru di buku (ada beberapa adegan dan tokoh penting yang tidak dimunculkan dalam film). Tapi, overall, sangat memuaskan lah dari segi sound effect, ketegangan cerita, dan latar tempat ceritanya. Cerita beda dari buku menurut saya memang sering dan wajar, tapi ada satu hal yg masih saya sangat pertanyakan sampai sekarang. Mengapa cap kelima (Illuminati memiliki 5 macam cap ambigram kuno) pada film sangat berbeda dari yang digambarkan dan diceritakan di buku? Kalau udah nonton filmnya, bandingkanlah cap kelima dalam film dgn cap kelima yang digambarkan dalam buku (di bawah ini) :

cap5

Coba perhatikan, cap di atas merupakan tulisan earth-air-fire-water digabung menjadi satu bentuk seperti bentuk diamond pada gambar di atas. Nah, hal inilah yang masih saya pertanyakan. Kenapa pake diubah segala? Justru bagusan cap di buku menurut saya. Hehehe,, ga tau lah, hanya sutradara dan penulis yang tahu. Overall, gw kasih rate 8.5/10 deh….. Sangat disarankan untuk menonton.. 🙂

Credits :
Special Thanx to Henny Triana (a.k.a Tia).. Udah kya pacaran aj, seharian di Ciwalk (dari Starbucks-BMK-21-JCo-Texas), hahahaha…

Marley and Me

Untitled-1 marley_and_me_movie

Wow, ini adalah posting ke-4 saya hari ini, hehehe.

Senin lalu, saya dan teman nonton film “Marley & Me” di 21 La Piazza. Saya baru tau setelah nonton filmnya, ternyata film ”Marley & Me” ini diangkat dari sebuah buku dgn judul yg sama (true story). Filmnya diperankan oleh Owen Wilson (berperan jadi John Grogan who is the name of the author of Marley & Me book) dan Jennifer Aniston (berperan menjadi Jenny). Ceritanya ttg seorang penulis kolom di koran, beserta istrinya yg juga penulis, membeli seekor anak anjing Labrador Retriever (lucu banget deh puppy-nya) utk dipelihara yg kemudian mereka beri nama Marley (gara2 mendengar lagu Bob Marley). Nah, Marley ini dari bayi udah gak ketulungan nakalnya. Amat sangat hiperaktif. Selalu berlari. Senang makan perabotan (bahkan mesin penjawab telepon pun ditelan bulat2). Selalu ribut (meloncat2 kegirangan) kalau tuannya datang. Selalu melolong kalau ada halilintar. Pernah suatu kali Marley menelan kalung si Jenny, sehingga mau gak mau, setiap kali Marley buang air besar, kotorannya dibersihkan pake air dan mereka mencari2 apakah ada kalung di antara kotorannya itu. Ewww.. tapi lucu, hahahaha… si Marley harus dipaksa makan mangga dulu biar sering pup.

Nah, meski Grogan sering menyebut Marley sebagai ”The world’s worst dog” atau ”anjing ternakal di dunia”, dan sering bikin suami-istri tsb abis kesabaran, Marley justru jadi inspirator bagi John untuk bahan cerita2nya yg dimuat dalam surat kabar tempat ia bekerja. So, intinya, sepanjang film ini, diceritakan ttg keseharian keluarga Grogan bersama Marley. Betapa keluarga Grogan sangat mencintai Marley meski Marley sering bikin susah. Meski Marley sering nyusahin, tapi Marley sangat menyayangi seluruh keluarga Grogan. Ketika salah satu anak Grogan sakit, Marley pun diam selama 9 jam. Ketika Jenny sedih, Marley juga ikut sedih. Whole story, ceritanya bagus, lucu, dan mengharukan. Bahkan bikin gw meneteskan air mata di bagian akhir. Ada kata-kata Grogan yg bikin gw terharu di akhir film:

”Seekor anjing tidak memiliki apa-apa. Tapi, jika kau berikan sedikit hatimu untuknya, maka ia akan berikan seluruh hatinya untukmu”

Kira-kira seperti itu kata-katanya. Very touching. Makes me wanting a dog, too! Buat yg pengen nonton dan bingung apakah film ini worthy utk ditonton, I’ll say, ”it’s worth it!”. Oia, ternyata si John Grogan ini punya blog juga, klik link ini.

The Naked Traveler

thenakedtraveller-1Buku The Naked Traveler ini baru selesai saya baca. Pinjam dari teman, hehe (makasih, Shany…. ). Buku ini sebenarnya adalah cerita keseharian seorang backpacker wanita yg saya rasa sudah mengelilingi hampir seluruh bagian dunia ini. Senangnya baca buku ini adalah gaya bahasa yg digunakan oleh sang penulis. Gaya bahasanya sangat santai dan ringan, seperti gaya kita menulis blog, sehingga tidak bikin kita bosan. Menariknya lagi, cerita2 yg ada di buku ini tergabung dalam setiap tema yg berbeda. Ada cerita menceritakan ttg kejadian2 lucu di ariport saja, ttg berbagai macam alat transportasi yg ada di dunia, ttg macam2nya penginapan yg ada, hingga tips2 yang bermanfaat. Kejadian2nya kebanyakan lucu-lucu semua. Membuat saya bisa tertawa2 kecil sendiri. Walaupun saya sudah baca buku ini dari pinjaman teman, saya tetep pengen beli rasanya. Karena penulis menceritakan tempat2 mana saja yang wajib dikunjungi dan sebaiknya dihindari jika berkunjung ke suatu negara, negara2 mana saja yg bebas visa, apa2 saja yg harus dibawa kalo mau jadi backpacker, penginapan2 yang seperti apa yang bisa di-afford oleh backpackers (pasti dana terbatas kan? Hehe), dan masih banyak lagi.

Penulis juga ternyata berkarakter spontan dan nekad. Membuat kejadian2 yg dia alami menjadi berwarna-warni dan beraneka ragam. Tampaknya setiap kali ia backpacking, selalu saja ada kejadian menarik, seru, dan lucu, yang bisa ia ceritakan. Kenapa bukunya diberi judul Naked Traveler? Saya juga kurang paham. Tapi, di bagian pengantar, si penulis menandatangani dirinya sebagai The Naked Nekad Traveler. Haha, mungkin ”naked traveler” adalah plesetannya ”nekad traveler”. Mungkin.

Efek samping setelah membaca buku ini tidak lain tidak bukan adalah : saya jadi makin kepingin backpacking! Kapan ya?? Setelah wisuda kah? Setelah dapet kerja kah? Hehehe, ada yg ingin bergabung? With pleasure….