Winning Speech of SBY

sbySemalam, tgl 20 Agustus 2009 di Jakarta, SBY and the gank mengadakan acara syukuran atas kemenangannya dalam Pilpres tahun ini. Di acara syukurannya itu, beliau pun menyampaikan pidato kemenangannya. Apa saja yg ia janjikan utk bangsa ini?

Mari kita baca kutipan dari situs Republika Online berikut ini :

”Ada waktunya berkompetisi, ada waktunya untuk bersatu. Mari bekerja sama untuk ke depan.” Pemilu memang bukan menjawab persoalan, sedangkan kekuasaan bukan tujuan akhir, melainkan jalan untuk menciptakan bangsa yang sejahtera. Untuk itu, dalam menjalankan tugas ke depan, pihaknya akan menuntaskan sisa pemerintahan di tahnun 2009. Dalam dua bulan ke depan, SBY akan menyusun rencana aksi, termasuk 100 hari pertama dan kebijakan lima tahun ke depan.

Hakekatnya, ini merupakan program berkesinambungan yan g dipertajam dan disempurnakan, ditambah dnegan langkah baru. Peningkatan kesejahteraan, pendidikan, kesehatan, perkuat ekonomi rakyat kecil, revitalisasi pertanian dan industri merupakan program utama dalam pemerintahannya. Semua itu didorong dengan pembangunan infrastruktur berbagai bidang. ”Semua berhasil jika dijalankan oleh pemerintahan yang bersih dan cakap.

Kami berusaha serius untuk reformasi birokrasi dan pemberantasan korupsi jadi poros,” sambungnya. SBY juga mempersiapkan kabinet baru dengan tenaga kompeten, bersih, jujur, dan integritas. ”Kontrak kerja sangat penting. Saya pilih yang terbaik dan profesional dari parpol maupun non partai. Saya pastikan kabinet baru itu siap bekerja di hari pertama mereka dilantik.”

And, by the end of his speech he said :
”Insya Allah di masa akhir bakti kami kelak, akan siap melanjutkan misi besar kita semua. Mari kita singsingkan lengan dan baju untuk menjadikan Indonesia yang demokrasi dan berkeadilan.”

Well… saya sebagai warga negara Indonesia yg baik (haha!) mengucapkan selamat kepada bapak SBY dan Boediono atas kemenangan mutlaknya di pilpres tahun ini. Atas pidato yg bapak ucapkan semalam, semoga bukan hanya janji, tp akan jadi bukti!

Advertisements

Speaking of PILPRES 2009

I haven’t spoken anything about last election which was held in July 8th 2009. Well,, now I want to talk about it, even though the election is over. Ngomong2 ttg hasilnya, saya ga nyangka aja hasilnya ternyata bisa seperti itu. Kecewa? Enggak, justru sebaliknya. Sebelum pemilu dimulai, saya sempatkan menonton acara-acara yang mengupas tentang kepemimpinan dan kepribadian dari masing-masing capres. Seperti sebuah acara di Metro TV yang sangat bagus menurut saya, yang membandingkan ketiga pasangan calon dengan menganalisis gaya kepemimpinan, kecenderungan motif-motif mereka, kemudian menampilkan perbandingan mereka dalam bentuk grafik-grafik. Sungguh menarik dan jadi tahu siapa saja yang memiliki kelebihan dan kekurangan dibanding calon lainnya. Selain acara tersebut, tentu saja saya cukup mengikuti debat-debat para capres dan cawapres di TV. Unik sekali jika melihat debat itu. Jadi terlihat bagaimana cara mereka berbicara sebenarnya, sehingga kita bisa mereka-reka bagaimana sikap mereka dalam mengambil keputusan.

Satu calon terlihat seperti ngomong ala kadarnya, dengan kecepatan bicara yang sedikit menyaingi kecepatan truk-truk yang lagi jalan di sebuah tanjakan. Ngomong yang tidak langsung to the point, sehingga kurang dimengerti intinya apa. Sama sekali tidak terlihat seperti gaya bicara pemimpin yang biasanya lugas dan berbobot. Ia tipe orang yg impulsif, yang mengambil keputusan tanpa berpikir, serta paling tidak visioner dengan kompleksitas intelektual paling rendah di antara calon2 lain (berdasarkan hasil analisis seorang psikolog politik dari UI). Jadi, menurut saya dia itu bukan leader dan juga bukan thinker.

Sementara calon kedua berbicara cukup cermat dalam membungkus pilihan kata-katanya, sehingga terlihat jelas bahwa ia adalah orang yang hati-hati. Mungkin dia bukan pengambil keputusan yang cepat, tapi dia tampak seperti orang yang mengambil keputusan dengan memikirkan aspek-aspek secara keseluruhan terlebih dahulu. Jika dia marah, gaya amarahnya tidak meluap-luap, orang yang sangat terkendali namun tegas. Kelebihan dia dibanding calon2 lain yaitu memiliki motif afiliatif paling tinggi, artinya dia senang membina hubungan dengan orang lain dan itu merupakan sumber utama kepuasan dia. Jadi, calon ini bisa dibilang adalah seorang thinker who lead.

Calon terakhir terlihat paling memukau diantara calon-calon lainnya karena terlihat paling bersemangat dalam memberi pendapat. Kadang sedikit menyerang pihak lawan. Kemampuannya memimpin tidak usah diragukan lagi, karena beliau sudah memimpin banyak perusahaan selama ini. Dia tergolong orang dengan tipe pengambil keputusan yang cepat. Cepat tidak selalu bagus. Pengambil keputusan yang cepat akan bagus ketika berada di situasi yang urgent dan membutuhkan penanganan cepat. Salah satu kelebihannya yaitu dia merupakan orang yang paling visioner di antara calon2 lainnya, yang paling bisa berpikir jauh ke depan. Oleh karena itu, calon 3 ini bisa dibilang adalah seorang leader who think.

Yah, sebenarnya menurut saya jika calon 2 dan 3 digabungkan, tampaknya mereka sebenarnya sangat serasi. ’Thinker who lead’ memimpin bersama-sama dengan ’leader who think’, bukankah itu sangat cocok? Entah apa yg membuat mereka terpisah. Mungkin ada pihak-pihak yang menginginkan mereka berpisah demi keuntungan pihak mereka sendiri. Hanya 1 pasangan di antara 3 pasangan tersebut yg paling sreg buat saya sejak awal.

Pasangan pertama… well, menurut saya, benar2 di luar option saya. Si capres pernah gagal terpilih dan seperti yg saya perhatikan bukan leader dan juga bukan thinker. Saya tidak bisa membayangkan dia sebagai pemimpin dan pengambil keputusan. Mungkin dulu ketika ia menjabat presiden, orang-orang yang berada di belakangnyalah yg mengambil keputusan untuk dia. I can’t understand, kenapa sampe ada segitu banyaknya pendukung dia. Is it just because it’s a she? Menurut kata seseorang di TV (saya lupa siapa), capres ini memiliki begitu banyak pendukung yg setia dengannya karena melihat dia telah membangun partai dari nol sampai besar sekarang. Pasangan calon 1 hampir sama tidak menguntungkannya bagi bangsa ini. Dia pernah dituduh melakukan pelanggaran HAM berat di jaman orde baru dulu. Apakah orang-orang yg dulu meneriakkan kata ’reformasi’ keras-keras dulu sudah lupa hal itu? Bukankah kita sudah menyatakan ingin lepas dari orde baru? Kenapa orang orde baru kini dipilih lagi? Ada yg ga beres dengan otak bangsa kita ini.

Pasangan yg kedua, well,,, awalnya saya agak kecewa dengan pemilihan pasangannya. Tapi, tampaknya, mungkin ada baiknya dia memilih pasangan itu. Capres 2 terlihat agak lemah dalam bidang ekonomi, sementara pasangannya sudah berada di bidang ekonomi sekian tahun. Hanya saja, kepribadian kedua orang dalam pasangan ini terlihat mirip di permukaan. Sama-sama jawa tulen. Keduanya sama2 thinker who lead. Kelebihan sang cawapres 2 ini adalah kemampuan dia berpikir efisiensi. Ekonom biasanya mengutamakan efisiensi. Tampaknya capres 2 ini memilih dia sebagai pasangan karena harapannya untuk perekonomian yang lebih baik lagi ke depannya.

Sementara capres 3, well, I’m disappointed with him choosing his spouse. Pasangannya merupakan orang yg telah berkhianat keluar dari partai aslinya. Lebih buruknya lagi, dia terlibat kasus pelanggaran HAM berat dunia. Well,, benar atau tidak keterlibatan dia dalam pelanggaran HAM, yang jelas dunia sudah menilai buruk ttg dia melihat recordnya yang buruk. Apakah kita mau punya pemimpin yang bahkan tidak dipercayai oleh dunia? Di acara KICK ANDY, dia pernah ditanya : ”bagaimana jika suatu saat Anda diharuskan pergi ke AS. Apakah Anda berani?” Pertanyaan yg sangat blak-blakan. Pihak AS memang mengenal dia, tapi bukan karena reputasinya yg baik. Cawapres ini tidak menjawab bahwa dia berani, hanya ngeles dgn kata-kata lain. Dia tertolong oleh pesona capresnya. Saya yakin, orang memilih pasangan ini hanya karena sang capres, bukan karena cawapresnya juga.

Yang buat saya agak kecewa dari ketiga pasangan adalah, hampir semua merupakan orang lama. Yang itu-itu saja. Orang yg berkibar di orde lama, lalu lama tidak muncul, tiba-tiba muncul jadi cawapres. Orang yg pernah gagal tidak terpilih mencalonkan dirinya lagi. Bahkan ada calon yg dulu mencalonkan dirinya jadi capres, kini jadi cawapres dengan partai pecahannya hanya karena yang penting dapat posisi. Ahhh,,, apakah segitu pentingnya bagi mereka kekuasaan itu? Gaji presiden, jika mengutip kata2 Andy dalam Kick Andy, hanya sekitar 63 Juta Rupiah. Padahal jika dibandingkan dengan pendapatan dan aset mereka yg berasal dari sana-sini, bisa melebihi nilai itu. Segitu ambisiuskahnya mereka hanya demi sebuah jabatan terpenting di negeri ini? Apakah motif mereka pure utk memperbaiki bangsa ini? Saya meragukannya.

Benar kata ayah saya, masing-masing dari capres sekarang tampaknya kurang baik dalam menerapkan regenerasi, sehingga orang itu-itu saja yg dicalonkan. Bukan cuma yg jadi capres sekarang, pemimpin-pemimpin partai lain tampaknya kurang berhasil dalam melakukan regenerasi. Jika ya, tentunya ada bibit-bibit pemimpin baru yang masih lebih muda dan fresh sekarang ini. Pemimpin muda dan berpengalaman lah yang ideal untuk setiap negara. Yah, walaupun kita masih menuju kesempurnaan, mudah-mudahan, yang terpilih ini bisa membawa kita ke kehidupan yang lebih baik. Sekarang, belum apa-apa, mereka sudah dibebankan dengan sebuah tugas penting yang tidak mudah, yaitu menumbuhkan kembali kepercayaan dunia kepada Indonesia. Semoga Allah memberi jalan bagi mereka untuk mewujudkannya.

Bagaikan Memilih Kucing dalam Karung

Yup, itulah yg akan saya rasakan ketika Pemilu Caleg April 2009 mendatang. Bagaimana saya bisa memilih caleg yg benar? Saya rasa, sekian orang memilih caleg yg diminati karena :

A.      Kenal dgn salah satu caleg (rekan / teman / sodara / ortu / tetangga / dll)

B.      Aktif terlibat dalam salah satu parpol, jadi bisa tau visi-misi setiap caleg yg terdaftar di partai masing2

C.      Money politics….. hmm, maybe?? Masih ada gak sih yg pake suap2an segala??

Nah, masalahnya adalah…. tiga2nya tdk mungkin jadi alasan saya. Saya tdk kenal dgn caleg manapun. Saya juga tdk aktif terlibat dalam parpol manapun. Lalu, apa yg akan menjadi landasan saya dalam memilih nanti? Hhh… jadi mempertanyakan,, apakah sistem pilih caleg scr langsung ini efektif atau tidak utk diterapkan di Indonesia saat ini??

Semalam saya nonton Metro TV yg kebetulan membahas kriteria2 caleg. Jadi, kriteria caleg yg sesuai itu ada tiga : integritas, kompetensi, empati. Integritas bisa diartikan jujur & dapat dipercaya alias amanah. Jelas, kriteria ini penting karena moral sebagian besar anggota dewan saat ini masih sangat patut utk dipertanyakan. Lalu, kompetensi, juga hrs mjd syarat caleg, karena menjadi anggota dewan itu tidak mudah, butuh kompetensi dan pengalaman utk bisa menyelesaikan persoalan2 di negeri ini. Terakhir, empati. Empati bisa diartikan memiliki perasaan senasib dgn rakyat. Nah, klo menurut survey Metro TV itu, 65% pemilih memilih INTEGRITAS sebagai kriteria paling penting yg harus dipenuhi. Kompetensi justru memperoleh polling terendah dari ketiga kriteria tersebut. Kenapa integritas? Kenapa tidak kompetensi? Pasti karena integritas menjadi persoalan utama yg ada di dewan kita saat ini. Banyak anggota DPR yg malah korupsi?? Anggota2 yg bahkan berasal dari partai yg berasaskan Islam? Sangat memalukan. Mungkin memang karena itu, masyarakat memilih integritas sebagai kriteria yg paling utama utk dipenuhi oleh setiap caleg.

Nah, sekarang, mana kita tau si A adalah caleg yg mengutamakan kejujuran di atas segalanya, yg kompeten mjd anggota dewan rakyat, dan yg empati dgn rakyatnya? Bingung ya?? Di sisi lain, MUI sudah mengharamkan utk jadi Golput. Jadi, mau gak mau hrs milih. Kembali ke awal, milih siapa? Menurut saya, sistem pemilu Indonesia saat ini mesti dikaji, dianalisis, dan disurvey ulang. Coba disurvey kpd masyarakat mengenai keefektifan pemilu, lalu rembugkan bersama2 bagaimana baiknya pemilu yg sesuai utk masyarakat Indonesia yg kondisinya seperti saat ini? Atau, jika tetap dgn sistem yg sekarang, pikirkan bagaimana caranya agar setiap caleg tersosialisasikan scr merata kpd setiap rakyat, sehingga rakyat bisa memilih caleg secara obyektif nantinya.

Berkampanye Lewat FACEBOOK

Believe it or not, facebook sudah bukan cuma ajang mencari teman, tapi juga sudah dijadikan sebagai ajang berkampanye bagi para caleg. Jadi tiba2 aj ada sebuah friend request yg “no friends in common”. Gw heran, ini siapa sih?? Kenapa fotonya seperti foto caleg lagi kampanye?? Ternyata, pas gw buka profile page nya, bener aja.. Itu bener2 facebook salah seorang caleg (dgn inisial CN) dari sebuah partai. Di bagian “about me” dy menuliskan seperti ini :

“for DPR RI no. 1 Dapil Jakarta II (Jakpus, Jaksel, Luar Negeri)

“SIAP BERJUANG !! meningkatkan Ekonomi, Pendidikan & Kesehatan Rakyat””

Ya ampun… hahaha… Lucu aja, kreatif abis.. menggunakan facebook sebagai media kampanye-nya….